Kamis, 30 Mei 2013

air terjun jumog

Air Terjun Jumog


Air Terjun Jumog

Hm, Air Terjun Jumog, The Lost Paradise. Terdengar seperti film Box Office yang sangat menjanjikan. Nyatanya The Lost paradise bukan merupakan tagline sebuah film, namun merupakan tagline dari sebuah kawasan wisata di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar.


Bacpacker ke Air terjun Jumog

   >  Cukup mudah jika ingin ke air terjun Jumog, apalagi banyak papan petunjuk jalannya. Caranya sama dengan pergi ke Candi Sukuh. Berhubung angkutan umum tak lewati air terjun ini, kita bisa turun di pertigaan nglorog dan naik ojek ke tempat ini. Biaya sekali jalan Rp 5.000,- biaya yang sama untuk menuju ke Candi Sukuh.

   >  Jika memiliki waktu panjang, lebih baik menyempatkan juga ke Candi Sukuh dan Candi Ceto dengan biaya Rp 50.000,- PP termasuk juga air terjun Jumog.
   >  Biaya retribusi Rp 3.000,-
Saya memang kepingin ke air terjun ini, maklum ga ada air terjun di kota, apalagi melihat gambar air terjunnya yang menjanjikan ketika browsing di internet. Maka jika waktu memungkinkan “harus” ke air terjun ini.

Jarak ke air terjun Jumog tak begitu jauh dari Candi Sukuh serta lebih dekat daripada Air Terjun Parang Ijo yang berada di utara Candi Sukuh. Namun, berhubung ke Candi Planggatan lebih dahulu dan mas ojeknya mengiklankan Telaga Madirdo, maka kami bertiga malah mengambil jalan berputar yang jauh untuk menuju air terjun ini.

Lagi – lagi kami menjadi pengunjung yang pertama yang datang ke air terjun Jumog, padahal masih jam sembilan pagi. Biaya retribusi untuk masuk ke air terjun ini adalah Rp 3.000,- Ternyata, air terjunnya berada di bawah dan kamipun harus turun ke bawah. Turunnya lumayan jauh juga, namun tidak sejauh Grojogan Sewu. Ini berarti naiknya melelahkan dan memakan waktu, padahal belum ke Candi Ceto. 

Saat turun menapaki anak tangga ini, bunyi gemuruh air terjun sudah terdengar, tapi air terjunnya masih belum kelihatan. Setelah turun, ada kolam renang dangkal dengan perosotan yang berjumlah banyak. Persotan berwarna – warni ini pastinya menarik perhatian anak kecil. Adikkupun terpesona olehnya. Karena tak ada waktu, langung aja bergerak menuju air terjunnya yang ternyata masih harus berjalan lumayan jauh dari anak tangga.

Air Terjun Jumog memiliki tinggi 60 meter, kalah 20 meter dari Grojogan Sewu dan arah terjunnya air bercabang dua. Ada 2 jalan menuju air terjun. Jalan pertama becek dan berada di bawah tebing. Jalan kedua agak panjang dan memutar serta melewati beberapa jembatan. Ternyata jalan pertama pernah terkena longsor bulan April lalu dan jalan kedua merupakan jalan alternatifnya yang lebih bagus dan nyaman daripada jalan kedua.

Jalan menuju air terjun sejalur dengan sungai kecil yang alirannya berasal dari air terjun. Sungainya berair jernih, dangkal dan masih terdapat beberapa batu alamnya. Seringkali jalannya bercabang menuju ke sungai sehingga kita bisa bermain air disana tanpa takut tenggelam karenanya walaupun kita berada di tengah sungai :D.

Dari kejauhan buih – buih air terjun sudah menerpa kita. Semakin mendekat, semakin basah kita. Aliran air terjunnya memang deras. Hanya beberapa menit berada di sekitar air terjun sudah mampu bikin pakaian basah !!

Lama tak melihat air terjun secara langsung membuat kita bertiga terpana karenanya. Apalagi daerah disekitar air terjun benar – benar masih hijau, apalagi ada larangan menebang tanaman secara sembarangan.

Sayangnya, satu – satunya hal menggangu adalah banyaknya sampah di bebatuan di sekitar air terjun. Alangkah baiknya jika pengunjung mebuang sampah pada tempatnya, apalagi banyak tempat sampah bertebaran di lokasi air terjun. Gazebo – gazebo kecil di sepanjang jalan menambah daya tarik sendiri karena kita bisa beristirahat sambil menikmati indahnya air terjun dalam sudut pandang yang kita suka, walalupun gazebo di dekat air terjun tidak dapat membuat kita merasa nyaman, karena gazebonya sendiri seperti habis diguyur hujan tanpa hentinya !!

Puas menikmati air terjun, jangan lewatkan masakan khas daerah pegunungan, apalagi kalau bukan sate kelinci. Banyak sekali pedagang sate kelinci ini, mulai dari pelataran parkir di atas, sampai warung - warung di sepanjang jalan menuju air terjun. Kami memilih warung yang terdekat dengan air terjun dan juga merupakan satu – satunya warung yang buka pada hari itu [di pelataran parkir juga baru ada satu warung yang buka].

                                                      Sate Kelinci

Seporsi sate kelinci berisi 10 tusuk sate dan lontong, harus ditebus seharga Rp 7.000,- bagi yang ga tega memakan hewan imut ini, maka dapat dipastikan setiap pedagang sate kelinci pasti juga berjualan sate ayam. Harga sate ayam dipatok lebih murah, yaitu senilai Rp 6.000,-

Entah harus bilang seperti apa mengenai daging kelinci ini. Selain dagingnya kecil, rasanya hampir mirip – mirip rasa daging ayam. Rasanya sangat jauh dari apa yang orang – orang katakana. Atau mungkin lidahku aja yang ga peka ?! Beda selera mungkin !!

Perut kenyang dan sudah jam sepuluh pagi dan pasangan sejoli mulai berdatangan kemari, itu saatnya mengakhiri wisata di air terjun Jumog. Masalahnya adalah perjalanan kembali membuat kita harus menapaki ratusan tangga kembali. Berhubung kasihan sama ibu dan adik, maka tas – tas mereka yang berat saya bawakan. Tapi, sayalah yang tiba duluan di atas dibanding mereka berdua !!

Melihat ibu saya kecapaian, membuat bapak – bapak petugas ga tega. Jadinya mereka mempersilahkan kami melewati “pintu ajaib” yang langsung menembus pelataran parkir [untuk menuju pelataran parkir sebenarnya harus naik lagi].

                                          Air Terjun Jumog - The Lost Paradise

Air Terjun Jumog, entah apa makna dari kata – kata itu. Saya sendiri tidak menemukan adanya papan informasi mengenai air terjun ini, mengenai namanya dan legendanya [atau saya yang kurang jeli ya ?!]. Yang jelas, inilah sepotong surga yang diciptakan Tuhan untuk mewarnai tanah Karanganyar yang kaya ini.

gua

Gua Putuk Kursi


Gua Putuk Kursi
            Hm, selain air terjun dan Gua Lowo, ternyata masih ada satu tempat lagi yang harus dikunjungi di Kawasan Kawasan Wisata Tahura (Taman Hutan Rakyat) R. Soerjo, yaitu Gua Putuk Kursi. Gua Putuk Kursi ini berada di Desa Sendi, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.
Menuju ke Gua Putuk Kursi
            Jika mau berkunjung kemari, silahkan membaca artikel sebelumnya tentang Air TerjunPacet. Jalanan kemari penuh tanjakan, pastikan kendaraan dalam kondisi prima. Jangan takut kesasar, jalanan besar hanya ada satu ini dan tinggal mengikuti papan petunjuk ke arah Batu.
Hujan Deras
            Setelah dari Gua Lowo, sayangnya saya harus segera beranjak dari sini untuk langsung ke Mojokerto, tepatnya Trowulan. Untungnya, saat pulangnya kami lewat daerah ini lagi. Suatu kebetulan, akhirnya bisa
Posted on 12.36 by Pein Akatsuki and filed under , , | 4 Comments »

Gua Lowo Mojokerto


Gua Lowo Mojokerto
            Hm, Kawasan Wisata Tahura (Taman Hutan Rakyat) R. Soerjo ini memang menyimpan banyak potensi wisata, salah satunya Gua Lowo. Gua Lowo ini berada di Desa Sendi, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.
Menuju ke Gua Lowo Mojokerto
            Untuk kemari, silahkan membaca artikel sebelumnya tentang Air Terjun Pacet. Jalanan untuk kemari sudah diaspal mulus dan tentunya karena berada di pegunungan, penuh dengan tanjakan, pastikan kendaraan dalam kondisi bagus.
Sendirian Ke Gua Lowo
            Saat membaca papan informasi, selain air terjun, terdapat dua buah gua, salah satunya Gua Lowo. Penasaran, akhirnya, sayapun ingin menengok gua tersebut. Seperti yang terlihat di dalam papan informasi, gua ini sangat menjanjikan untuk dikunjungi.
Posted on 08.34 by Pein Akatsuki and filed under , , , | 3 Comments »

Gua Selomangleng

Hm, Alkisah Raja Djojoamiluhur mengadakan sayembara untuk mencarikan suami bagi anaknya, Dewi Kilisuci. Celakanya, pemenangnya adalah Djotosuro, seorang raja berkepala kerbau. Dewi Kilisucipun ogah, dan menjebak Djotosuro supaya dibuatkan sumur yang teramat sangat dalam. Lalu Dewi Kilisuci menyuruh prajuritnya untuk menimbun sumur itu dengan batu hingga meninggi dan terciptalah Gunung Kelud. Tapi sialnya, arwah Djotosuro sering marah dan Gunung Keludpun meletus. Supaya rakyat Kediri dan sekitarnya selamat, maka Dewi Kilisucipun bertapa dan tidak menikah hingga muksa di Gua Selomangleng.
            Demikianlah sepenggal dan versi singkat dari legenda yang mendasari terciptanya Gua Selomangleng (serta Gunung Kelud), sebuah situs wisata arkeologis di Desa Pojok, Kecamatan Mojoroto, Kotamadya Kediri, Jawa Timur. Selomangleng sendiri mempunya arti, Selo = Batu dan Mangleng = mangklung atau menjorok keluar. Gua itu sendiri berada pada sebuah bukit di kaki gunung Klothok.
Bacpacker Ke Gua Selomangleng
            Untuk menuju kawasan wisata Gua Selomangleng ini, ada banyak sekali kendaraan umum yang bisa digunaka

air terjun

Air Terjun Pacet


Air Terjun Pacet
            Hm, jika kalian pernah ke Batu lewat Pacet melalui Taman Hutan Rakyat R. Soerjo (baca: Suryo) maka sebelum gerbang Tahura di Pacet, kita bisa menemukan sebuah air terjun kecil di tepi jalan, tepatnya di Desa Sendi, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.
Menuju ke Air Terjun Pacet
            Untuk kemari, sayangnya tak ada kendaraan umum. Dari Mojokerto bisa langsung mengarahkan kendaraan ke Pacet dan tinggal mengikuti papan petunjuk ke arah Batu. Bagi wisatawan yang tak membawa kendaraan sendiri, dari Terminal Pacet bisa naik ojek dengan biaya Rp 20.000 – Rp 30.000 harga yang lumayan mahal. Kondisi jalan dari Pacet ke Sendi penuh dengan tanjakan, pastikan kendaraan dalam kondisi prima.
            Jika dari arah Malang, arahkan kendaraan ke arah Cangar, dari sini jalanan penuh tanjakan dan turunan, tapi tidak
Posted on 00.24 by Pein Akatsuki and filed under , , , | 2 Comments »

Air Terjun Grojogan Sewu


Air Terjun Grojogan Sewu

Hm, Air Terjun Grojogan Sewu, sebuah air terjun dengan panorama hutan alami di kaki Gunung Lawu, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Bacpacker ke Air Terjun Grojogan Sewu

Untuk menuju ke Grojogan Sewu sangat gampang sekali, apalagi merupakan daerah wisata andalan Kabupaten Karanganyar.

    > Jika dari Solo, kita bisa naik bus jurusan Tawangmangu dan akan dikenakan biaya sebesar Rp 7.000,- s/d Rp 8.000,- Lebih gampangnya, liat aja daftar tarif bus yang banyak disebar di beberapa titik di
Posted on 02.44 by Pein Akatsuki and filed under , , | 20 Comments »

Air Terjun Jumog


Air Terjun Jumog

Hm, Air Terjun Jumog, The Lost Paradise. Terdengar seperti film Box Office yang sangat menjanjikan. Nyatanya The Lost paradise bukan merupakan tagline sebuah film, namun merupakan tagline dari sebuah kawasan wisata di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar.


Bacpacker ke Air terjun Jumog

   >  Cukup mudah jika ingin ke air terjun Jumog, apalagi banyak papan petunjuk jalannya. Caranya sama dengan pergi ke Candi Sukuh. Berhubung angkutan umum tak lewati air terjun ini, kita bisa turun di pertigaan nglorog dan naik ojek ke tempat ini. Biaya sekali jalan Rp 5.000,- biaya yang sama untuk menuju ke Candi Sukuh.

   >  Jika memiliki waktu panjang, lebih baik menyempatkan juga ke Candi Sukuh dan Candi Ceto dengan biaya Rp 50.000,- PP termasuk juga air terjun Jumog.

candi simping

Candi Simping


Hm, Candi Simping berada di Dusun Sumber Jati, Desa Kademangan, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Karena berada di Dusun Sumber Jati, masyarakat lebih mengenalnya dengan nama Candi Sumber Jati.
Bacpacker ke Candi Simping
Candi Simping terletak sekitar 3 Km dari Arca Ganesha Boro. Candi Simping sendiri relatif mudah dicapai karena terletak di jalur menuju Pantai Tambakrejo dan Gua Embultuk.
  >  Dari arah Tulungagung langsung naik bus menuju Blitar, turun di pertigaan Kademangan. Menyeberanglah ke pos polisi untuk mencari angkot disana. Minta turun di Candi Simping (atau sebut saja Candi Sumber Jati jika angkotnya tak tahu).Didekat Pom Bensin Sumber Jati ada pertigaan, jalan kaki ke pertigaan tersebut sejauh 100 meter (ada papan petunjuknya). Candi berada di sisi kiri jalan.
  >   Dari arah Blitar dapat langsung naik angkot ke Simping atau Sumber jati dan turun di  pertigaan di depan Candi Simping. Perjalanan dilanjutkan berjalan kaki.
Setelah Arca Ganesha Boro, tujuan selanjutnya adalah Candi Simping. Menunggu angkot ternyata agak jarang dan itupun selalu penuh. Akhirnya memutuskan berjalan kaki. Baru berjalan setengah kilometer, termakan bujuk rayu tukang ojek yang sedang mangkal di depan Pasar Kademangan perjalanan selanjutnyapun dilanjutkan dengan naik ojek.
Candi Simping sendiri berada merupakan candi Hindu dan berada diantara persawahan dan masih masuk lagi sekitar 10 meter dari jalan desa. Sekarang, yang hanya bisa dilihat dari Candi Simping sendiri hanyalah reruntuhannya.
Tempat Pendharmaan Raden Wijaya
Puncak Candi Simping
Saat kita melangkahkan kaki memasuki areal candi, kita akan disambut dengan lingga (personifikasi alat kelamin laki – laki) yang memanjang dengan tinggi sekitar satu setengah meter. Batu – batu candinya sendiri telah ditata rapi di pinggir areal candi. Beberapa telah direkonstruksi ulang, seperti puncak candi yang diletakkan di sudut areal candi dengan tinggi sekitar dua meter (jadi, kalau mau foto tak perlu susah payah memanjat candi :D ). Kalamakara yang berjumlah empat yang biasa menghiasi pintu masuk candi bagian atas masih utuh tanpa rusak sedikitpun.
Bebatuan Candi Simping
Bangunan utama Candi Simping hanya tinggal pondasi candinya saja. Pondasi Candi Simping menghadap ke arah barat dan berukuran sekitar 8,2 m x 10,5 m.. Dari sini, kita dapat melihat konstruksi Candi Simping yang unik. Bahan penyusun Candi Simping terdiri dari batu andesit dan batu bata. Batu batanya sendiri dijadikan sebagai bahan dalam bangunan candi dan batu andesit dijadikan untuk bagian luar candi. Hal unik ini juga dapat kita temui di Candi Sanggrahan, Candi Surowono dan Candi Induk Penataran. Sebenarnya hal tersebut merupakan salah satu ciri khas bangunan pada era Majapahit. Pada bagian pusat Candi Simping terdapat sebuah batu andesit berpahatkan seekor kura – kura.
Antefik Candi Simping
Candi Simping merupakan tempat pendharmaan Raden Wijaya, raja pertama Kerajaan Majapahit yang wafat tahun 1309 Masehi. Di candi ini dulu pernah diketemukan arca Harihara, Dewa gabungan Siwa dan Wisnu sebagai penggambaran Raden Wijaya. Arca Harihara yang masih dalam kondisi bagus dan utuh ini sekarang disimpan di Museum Nasional Republik Indonesia, Jakarta.

Pihak Balai Purbakala telah memiliki sketsa rekonstruksi Candi Simping. Dalam sketsa itu tergambar bentuk candi yang ramping tinggi ke atas dengan ketinggian sekitar 18 meter. Sepintas, bentuk candi mirip Candi Sawentar dan Candi Kidal. Dan karena ketiadaan dana, Candi Simping ini tak pernah direkonstruksi. Padahal, Kitab Negarakertagama mencatat bahwa Raja Hayam Wuruk pernah merenovasi candi ini pada tahun 1285 Saka (1363 M).
Aneka Relief Hewan di Candi Simping
Pada bagian pondasi candi ini masih terdapat beberapa relief hewan. Relief hewan disini sungguh beragam, ada angsa, babi hutan hingga kuda poni. Selain relief hewan, pada batu – batu candi terdapat relief suluran tanaman dan relief bunga. Ada juga hiasan pilaster candi serta aneka antefik dalam bentuk beragam nan unik.
Lingga Itu Yoni ?!

Lingga, Bukan Yoni
Candi Simping dijaga oleh dua orang juru pelihara (yang sayangnya saya lupa namanya, maaf ya pak, lagi – lagi saya lupa mencatat). Saat saya menanyakan yoni Candi Simping ( yoni merupakan simbol wanita dengan bentuk persegi dengan lubang diatasnya. Lubang ini diisi oleh lingga), bapak – bapak jupel malah bilang bahwa lingga yang didepan pintu masuk itu adalah yoni (lingga = yoni ?? ) sedangkan lingganya sendiri sekarang berada di Museum Penataran. Hal salah kaprah ini tampaknya juga dicatat oleh wartawan yang berkunjung kesini yang mewawancarai beliau – beliau sebagai narasumber.
Batu Bata Candi Simping
Relief Kura - Kura
            Walau hanya tinggal reruntuhan, Candi Simping merupakan candi yang unik karena dari sini kita bisa mengenal beberapa komponen bebatuan candi dan bagaimana bebatuan tersebut bisa laing tersambung satu sama lain hingga tidak runtuh.
            Salah satunya dengan melihat bagaimana struktur setiap bebatuan yang berbeda, seperti adanya lubang di bebatuan yang merupakan sambungan bebatuan yang lain dan bisa mengunci dengan kuat tanpa adanya semen yang ikut turut campur. Demikian juga dengan kalamakara yang pada bagian belakangnya berbentuk  seperti tangga yang kemungkinan bisa dimasukkan pada bagian berongga di bagian ambang atap candi. Hal serupa juga tampak pada beberapa arca rusak yang bagian belakangnya ternyata memanjang seperti tusuk es krim.
Walaupun candi kecil, ternyata Candi Simping merupakan candi yang ramai, kontras sekali dengan candi – candi kecil lainnya. Hal ini mungkin dikarenakan Candi Simping  terkenal dikalangan warga Blitar. Terbukti dari buku daftar pengunjung, hampir setiap hari ada pengunjung yang datang ke candi ini, kebanyakan memang berasal dari luar kota. Sering juga candi ini disinggahi rombongan pelajar yang sedang study tour. Agaknya hal ini dikarenakan candi ini berada di jalur menuju Pantai Tambakrejo hingga membuat beberapa wisatawan yang penasaran (dan saya yakin orang yang penasaran jumlahnya sedikit) mampir ke candi ini.
Kecil dan sangat berarti, Candi Simping adalah salah satu peradaban luhur nenek moyang kita yang patut kita lestarikan dan kita jaga. Apalagi dengan mengunjungi Candi Simping serasa melihat suatu puzzle masa lampau dimana bebatuannya menunggu untuk disatukan satu dengan yang lainnya hingga menjadi satu kesatuan yang utuh.

candi cawi

Candi Jawi



Bacpacker ke Candi jawi

Candi jawi berada pada jalur strategis menuju tempat wisata Air Terjun Kakek Bodo.

  >  Dari Surabaya, dapat naik bus jurusan Malang. Turun di Terminal Pandaan. Biaya Rp 5.000,-

  >  Dari Terminal Pandaan dapat naik ojek ke Candi Jawi dengan biaya Rp 5.000,- sekali jalan. Atau bisa juga naik angkot yang mengarah ke Air Terjun Kakek Bodo dan turun di Candi Jawi.

  >  Dari Malang, dapat naik bus jurusan Surabaya, turun di Terminal Pandaan dan perjalanan dapat diteruskan dengan naik ojek atau angkot.

  >  Jika berkendara sendiri, dari Surabaya atau Malang dapat langsung mengarahkan kendaraan ke Pandaan, arah yang menuju ke Air Terjun Kakek Bodo

Candi Jawi disebut di Negarakertagama dengan nama Jajawi dan bisa dikatakan kalau nama Candi Jawi hampir tidak pernah berubah. Mempunyai alas berukuran 14,24 m x 9,55 m dan memiliki tinggi 24,50 m. Candi Jawi berdiri diatas teras tinggi yang dikelilingi oleh parit. Berbeda dengan Candi Sanggrahan, teras tinggi di Candi Jawi ini walaupun sama – sama terbuat dari batu bata namun polos tanpa hiasan apapun.

Candi Jawi berada di lereng Gunung Welirang, namun pintu masuknya menghadap ke timur membelakangi Gunung Penanggungan. Beberapa ahli menganggap hal ini karena dipengaruhi unsur agama Buddha mengingat Candi Jawi bercorak Syiwa – Buddha. Sedangkan beberapa ahli  lainnya berpendapat bahwa Candi Jawi bukan merupakan tempat pemujaan kepada Dewa karena membelakangi gunung.

Candi Jawi ini merupakan candi yang unik karena menggunakan dua macam batu yang berbeda. Hal ini dikarenakan Candi Jawi dibangun pada masa dua kerajaan yang berbeda, Kerajaan Singosari dan Kerajaan Majapahit.

Pada masa pemerintahan Raja Kertanegara dari Kerajaan Singosari, Candi Jawi dibuat menggunakan batu andesit yang memang banyak terdapat di Gunung Welirang. Hal ini masih dapat dilihat pada bagian kaki candi. Pada tahun 1253 Saka atau 1331 masehi, Candi Jawi tersambar petir dan setahun kemudian Raja Hayam Wuruk membangunnya kembali.

Pada saat pembangunan kembali inilah batu putih digunakan. Batu putih tersebut diduga didatangkan dari pesisir utara Pulau Jawa dan dari Pulau Madura. Batu putih digunakan untuk membangun kembali badan candi. Sedangkan pada bagian atap candi menggunakan batu andesit dan batu putih. Masih pada zaman Majapahit, pada sekeliling Candi Jawi juga dibangun parit serta pagar tembok keliling candi dari bahan batu bata.

Pada bagian dinding tubuh candi terdapat relung – relung berbentuk persegi dengan hiasan kalamakara kecil pada bagian atasnya. Sayangnya, relung – relung ini kosong karena kesemua arcanya telah dipindah ke museum dan Hotel Tugu Park, Malang.


Pada tahun 1938 – 1941, pemerintah Hindia – Belanda mencoba memugar kembali Candi jawi, namun terhenti karena bentuk Candi Jawi yang telah rusak parah dan banyak batu penyusunnya yang hilang.

Pada Pelita II tahun 1975/1976, Candi jawi kembali dipugar dan atas jasa salah seorang pekerja yang bernama Mbah karto plewek dari Prambanan, batu – batu Candi Jawi yang hilang bisa kembali diketemukan. Pemugaran selesai tahun 1980 dan pada tahun 1982, Candi jawi diresmikan dan dibuka sebagai objek wisata sejarah.

Walaupun selesai dipugar, nyatanya hanya candi utama saja, sedangkan ketiga candi perwara yang terletak didepan candi utama (Candi Jawi) tidak dapat dpugar, kemungkinan besar karena banyak batunya yang hilang. Candi Perwara Candi Jawi sekarang hanya menyisakan beberapa balok batu yang disusun seperti altar dan terletak didepan Candi Jawi (dua candi perwara lainnya sudah hilang).

Candi Jawi memiliki relief yang unik. Tidak seperti kebanyak candi lainnya yang reliefnya menceritakan suatu kisah, relief di Candi Jawi malah menggambarkan keadaan sekitar candi (seperti Candi Jawi beserta ketiga candi perwaranya) dan ada juga relief cerita tentang pendeta wanita. Relief – relief yang dipahatkan di kaki candi ini sangat tipis dan sangat sulit dibaca, bahkan para ahli sejarah kurang tahu cerita yang terkandung dalam relief – relief tersebut.

Pada bagian belakang pos jaga, terdapat ruangan kecil yang digunakan untuk menempatkan bebatuan candi yang tak dapat disusun lagi. Disampingnya terdapat dua toilet, benar – benar kejutan menemukan toilet di candi kecil seperti ini setelah sebelumya juga menemukan toilet di Candi Pari.

Parit yang mengelilingi candi menjadi kendala tersendiri, apalagi jembatannya juga cuma satu dan langsung mengarah ke depan candi. Alhasil, kalau berputar – putar di halaman candi seluas 40 x 60 m2 ini kita harus berjalan lagi ke depan, melewati parit yang dalam yang penuh akan bunga teratai.

Karena kesorean, kami tak bertemu juru peliharanya, namun Candi Jawi masih terbuka dan sering dijadikan tempat refreshing sejenak bagi karyawan pabrik di sekitar Pandaan – Tretes yang memang di daerah tersebut banyak terdapat pabriknya.

Walaupun berada di tepi jalan strategis menuju Air Terjun Kakek Bodo, nyatanya banyak wisatawan yang cuma melewatkannya begitu saja. Terbukti dengan pertanyaan temanku mengenai bangunan putih di tepi jalan. Padahal, Candi Jawi ini menyolok mata dengan warna putihnya yang anggun (Candi manalagi yang terbuat dari batu putih selain Candi Jawi [Candi Kalasan tidak dihitung karena hanya menggunakan brajalempa]). 
Candi Jawi


Sekali – kali mengunjungi candi yang indah ini tak ada salahnya, sembari menikmati udara pegunungan ditambah pemandangan yang indah akan Gunung Penanggungan dan Gunung Welirang. Namun, pada akhirnya, mendung dari Sidoarjopun yang menjadi hujan di Treteslah yang memaksa kami mengakhiri kunjungan ke Candi Jawi ini

candi borobudur

Candi Borobudur

Candi Borobudur

Hm, Candi Borobudur, sebuah mahakarya agung dan fenomenal karya leluhur kita. Sebuah candi yang memonopoli semua candi yang ada di Indonesia (coba tanya orang aja, mereka pasti tahunya cuma Candi Borobudur dan Candi Prambanan saja). 


Bacpacker ke Candi Borobudur

Untuk menuju ke Candi Borobudur, sangat mudah sekali karena banyak angkutan menuju kesini. Karena saya berangkat dari Yogya, maka saya bahas yang dari Yogyakarta saja.

>  Ada dua alternatif menuju Candi Borobudur, kita bisa naik bus mini dari Terminal Giwangan Yogyakarta dengan tarif sekali jalan Rp 15.000,- Alternatif lainnya, kita bisa naik dari Terminal Jombor dan akan dikenakan tarif Rp 10.000,- Untuk menuju Terminal Jombor sendiri, kita dapat naik Trans-Yogya senilai Rp 3.000,- dan jika ditotal, kita bisa berhemat sampai Rp 2.000,- (lumayanlah, kalau kita rombongan 5 orang bisa hemat sampai Rp 10.000,-)


>  Sebelum sampai di Terminal Borobudur, kita tentunya akan melewati Candi Mendut yang mempesona. Mampirlah ke candi ini jika sempat (ga maukan kalah sama turis asing yang selalu mengunjungi candi ini selepas atau sebelum ke Borobudur)

>  Untuk menuju Candi Borobudur dari Terminal Borobudur, kita dapat naik becak atau dokar dengan tarif Rp 10.000 – Rp 15.000,- Lebih hematnya sih jalan saja, karena jarak yang tak terlalu jauh (10 menit jalan kaki sudah sampai)

>  Biaya retribusi kala liburan Rp 17.500,-  s/d Rp 22.500,- naik dari harga biasa. Kamera ditarik Rp 1.000,- (yang ini yang ga naik)

Candi Borobudur terletak di Dusun Budur, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO yang disahkan tahun 1991 dengan nomor 582 (semula bernomor 348). 

Sejarah Candi Borobudur

Candi Borobudur dibangun pada masa pemerintahan Raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra tahun 780 Masehi. Tahun 830 Masehi, atau lima puluh tahun kemudian, Candi Borbudur baru selesai dibangun dan pemerintahan telah dipegang Ratu Pramudawardhani, putri dari Raja Samaratungga.


Candi Borobudur memiliki 10 tingkat dan berbentuk punden berundak. Bagian kaki Borobudur melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih dikuasai oleh kama atau "nafsu rendah". Relief cerita disini disebut Kammawibhangga dan memiliki 160 panel relief. Sayangnya, relief – relief ini tertutup batu – batu yang digunakan untuk memperkuat konstruksi candi. Namun pada bagian tenggara, batu – batu tersebut disingkarkan sehingga kita dapat melihat reliefnya [sayangnya, saya tidak tahu akan hal ini waktu kesini, padahal saya banyak bercerita tentang hal ini pada Miku Haruhi Hatsune dan Rizky temanku].

Empat lantai diatasnya dengan dinding berelief disebut Rupadhatu, yang berarti dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief dan disebut Arupadhatu yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud. Di tingkatan ini terdapat patung – patung Buddha yang ditempatkan di dalam stupa yang berlubang.

Tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi. Mengenai stupa induk ini terdapat banyak spekulasi tentangnya, terutama mengenai isinya. Perlu diketahui, bahwa stupa induk ini berongga di dalamnya. Residen Kedu, Hartmann, ketika mengadakan penelitian pada tahun 1835-1842 pernah terpergok oleh penduduk sekitar membawa benda yang dibungkus oleh sapu tangan dan tidak pernah melepaskannya. Kuat dugaan bahwa benda itu merupakan arca emas dari Stupa induk. Ada juga yang mengatakan bahwa isinya merupakan arca Buddha yang belum selesai (berdasarkan Serat Centhini yang ditulis sebelum Hartmann datang untuk pertama kali ke Borobudur). Namun, berdasarkan buku Raffles, History Of Java terdapat gambar irisan stupa induk dalam keadaan kosong. Hal ini diperkuat dengan tidak diketemukannya landasan (lapik) arca di dalam stupa induk. Jadi, diantara ketiga hal diatas, manakah yang benar ??

Misteri Candi Borobudur

Hal menarik lainnya mengenai Candi Borobudur adalah spekulasi bahwa Candi Borobudur dibangun ditengah – tengah danau (hal yang tidak mustahil, sebab Stupa Sumberawan di Malang pada awalnya dibangun ditengah danau kecil, namun karena terjadi pendangkalan, maka Stupa Sumberawan sekarang berada di tepian danau). Helmy Murwanto, seorang geolog asli Muntilan, melakukan penelitian atas lapisan tanah disekitar Borobudur dan menemukan lempung dengan kandungan serbuk sari tanaman air. Darisinilah dia berkesimpulan  bahwa Danau Borobudur menggenangi kawasan ini pada kurun 22.000 hingga 660 tahun silam. Sementara itu, Borobudur dibangun oleh Samaratungga dari Wangsa Syailendra pada sekitar 800-an Masehi atau sekitar 1.200-an tahun lampau.

Dan tentu saja, akan ada penyanggah akan hal diatas. Van Erp, insinyur Belanda yang pernah memimpin pemugaran Candi Borobudur kurun 1907-1911, mengatakan bahwa tak ada satupun prasasti yang mengatakan bahwa adanya danau dikawasan Kedu. Namun, banyak arkeolog berpendapat bahwa Danau Borobudur memang ada, namun jauh dimasa sebelum Candi Borobudur ada.


Misteri lainnya mengenai Candi Borobudur adalah mengenai bentuk dari puncak stupa induk. Semenjak diketemukan, stupa induk Candi Borobudur memang telah runtuh dan tidak diketemukannya batu penyusunnya membuat banyak arkeolog mereka – mereka mengenai bentuk sebenarnya. Dan misteri terakhir mengenai Candi Borobudur adalah tentang arsiteknya. Ya, arsitek bangunan fenomenal ini tak pernah ditemukan di dalam prasasti atau kitab – kitab kerajaan. 

Candi Borobudur Kini 

 Candi Borobudur telah mengalami banyak sekali percobaan. Berkali – kali terkena letusan Gunung Merapi, gempa bumi hingga pernah dibom pada 21 Januari 1985 (hampir setahun semenjak pemugaran yang dibantu UNESCO selesai tahun 1984). Namun sekarang, ancaman terbesar Candi Borobudur adalah dari wisatawan sendiri.

Beberapa penelitian menghasilakn kesimpulan bahwa Candi Borobudur kelebihan beban dan terancam terbenam, maka pemerintah memutuskan melarang pedagang asongan yang dulunya bisa bebas berkeliaran berjualan di dalam candi untuk tidak berjualan lagi di areal dalam Candi Borobudur dan menempatkan mereka di Pasar Borobudur yang terletak di jalan keluar menuju tempat parkir.

Ancaman lainnya adalah banyaknya pengunjung yang nekat naik ke beberapa stupa berongga demi menyentuh beberapa bagian tubuh patung Buddha. Hal ini membuat lapik arca dengan motif padma semakin aus atau rusak karena tergesek alas kaki jutaan pengunjungnya selama puluhan tahun, bahkan banyak juga orang yang nekat naik ke beberapa dinding candi yag berelief demi mendapat foto yang bagus (padahal sudah banyak larangannya yang ditulis dalam dua bahasa).

Berhubung saya datang kesini tepat waktu liburan, maka saya mendapati harga tiket Candi Borobudur yang naik gila – gilaan dan belum lagi candi yang macet karena terlalu banyak pengunjung. Tapi tenang saja, Candi Borobudur memiliki empat pintu masuk, jika pintu masuk utamanya macet, maka kita bisa masuk lewat pintu yang lainnya. Walaupun berada di daratan tinggi, ternyata kalau siang Candi Borobudur sangat panas menyengat, topi dan jaket sangat diperlukan. Belum lagi saat siang sedikit hujan deras mengguyur dan membuat rencana saya ke Candi Pawon dan Candi Mendut batal.

                                  Akhirnya, Dapet View Yang Ga Ada Orangnya :D

Hal yang paling banyak dicerca mengenai Candi Borobudur adalah mengenai kebersihannya. Banyak sekali sampah yang menggunung di luar pagar candi, belum lagi toliet yang gelap dan kotor (kalah sama toilet utama di Candi Prambanan – masalah toilet di Candi Borobudur ini juga sering dibahas di beberapa media cetak). Hal tersebut tentu saja mendapat nilai minus dimata wisatawan, apalagi Candi Borobudur adalah tempat wisata bertaraf internasional. Semoga saja, jika ada kesempatan mengunjungi candi ini untuk kesekian kalinya, hal – hal tersebut segera dibenahi.