Kamis, 30 Mei 2013

kisah kancil

Kisah si kancil dan kuda yang sombong

http://biliksebelah.wordpress.com
Pada jaman dahulu ada seekor kura-kura, manusia, dan hewan lainnya. Mereka saling berbagi
dan hidup rukun di dalam hutan yang sejuk. Suatu sore, pada waktu si kancil berjalan sendiri, tiba tiba ada seekor kuda yang berlari sangat kencang mendahuluinya, sambil berteriak,
Kancil jelek! Tidak bisa berlari!”
Hai kuda jangan sombong, aku bisa berlari cepat kok.”
Ah bohong, kalau berani ayo lawan aku lomba lari cepat. Seratus meter.”
dan kancil pun setuju. Mereka sepakat untuk bertanding di sini esok hari.
Lalu mereka pun pulang ke rumah masing-masing. Kuda langsung tidur, ia malas berlatih. Sedangkan kancil langsung berlatih secukupnya supaya besok pagi ia bisa memenangkan pertandingan.
Esok harinya, mereka pun berkumpul di tempat yang telah disepakati. Teman-teman kuda dan kancil ikut datang juga.
Tepat pukul sembilan pagi perrtandingan dimulai. kuda langsung melesat meninggalkan si kancil. Teman-teman kancil berteriak memberi semangat pada kancil, sehingga ia terus berusaha berlari mengejar kuda yang sudah jauh di depan. Akhirnya si kancil bisa mendahului kuda yang berhenti karena kecapekan lalu tertidur di bawah pohon apel.
Akhirnya si kancil pun memenangkan lomba lari. Kuda yang sombong itu meminta maaf pada si kancil dan semua teman-temannya, dan semua hewan di hutan akhirnya hidup rukun dan damai.
>> >TAMAT<<<

trenggliling si pemalu


Trenggiling Si Pemalu

http://cartoonframes.net
Hari ini semua binatang di hutan tropis keluar pagi-pagi dari sarangnya.  Hari ini adalah hari untuk bergembira bersama di musim panas yang panjang. Semua binatang berbondong-bondong menuju ke sebuah tempat yang sangat luas dan terbuka.
Mereka tampak riang gembira. Induk-induk mereka tampak sibuk membawa keranjang makanan kesukaan mereka.  Mereka terlihat cantik dengan topi lebar berwarna-warni dan penuh dengan bunga setaman di atasnya. Ada pula yang memakai kacamata berwarna-warni.  Para pemain bola terlihat gagah dengan celana pendek dan sepatu bolanya.
Ya betul, hari ini adalah hari pertandingan sepak bola antar  klub. Mereka akan bertanding bola seharian penuh. Dari mulai terbitnya matahari sampai tengah malam nanti.  Tiap klub terdiri dari berbagai jenis binatang. Pertandingan kali ini di isi oleh 6 klub sepakbola.
http://airsavana.com
Singa sang Raja Hutan   memberikan sambutan dan harapannya untuk seluruh rakyatnya. Sambutan diakhiri dengan tepukan riuh rakyat hutan tropis, tanda mereka cinta dan setuju dengan ucapan rajanya.
Pertandingan demi pertandingan berlalu sampai saatnya klub 5 bertanding melawan klub 6.  Pertandingan terpaksa ditunda sejenak karena klub 5 kehilangan dua orang pemainnya yang mendadak sakit perut karena terlalu banyak makan sebelum pertandingan. Kapten klub 5 bingung, bagaimana mencari pemain yang baik dalam waktu sesingkat ini.
Kapten 5 duduk termenung di bawah pohon, disebelahnya duduk seekor Trenggiling.  Kapten menaruh bola sepak di sebelah kakinya. Tak sengaja bola sepak itu menggelinding ke arah kaki Trenggiling.  Refleks Trenggiling menahan bola sepak itu sambil memantulkannya ke udara, kemudian bola sepak itu turun kebawah dan disambut dengan buntutnya lantas di lemparkan kembali keudara. Hal itu berlangsung terus sehingga membuat Kapten terperangah kagum.
Dipandangnya Trenggiling itu, caranya memainkan bola sepak sangat baik untuk anak muda seusianya.  Disapanya Trenggiling muda itu dengan senyum hangat.
“Hai…..siapa namamu ?”
“Ooohhh….hhhhmmmm….mmmmm…..” Trenggiling nampak kikuk menjawab pertanyaan kapten. Diletakkannya bola sepak itu di pangkuannya dan dibetulkannya topinya yang terpasang terbalik.
“Aku beruang madu, kapten klub 5″  Kapten memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangannya ke Trenggiling.
Trenggiling masih diam sambil tertunduk malu.
” Hai….Hallluuuuu……siapa namamu?” Kali ini kapten bertanya sambil berjongkok di depan Trenggiling.
Trenggiling bertambah malu, bola sepak dilepasnya ke tanah dan Trenggiling mulai menggulung badannya membentuk lingkaran. Disembunyikannya wajahnya dalam-dalam. Trenggiling sangat pemalu.
“Ayolaaahhh….jangan begitu terhadapku……aku sangat kagum dengan kelicahanmu memainkan bola sepak. Kebetulan klubku kekurangan dua orang pemain, maukah engkau membantu kami menggantikan mereka ?”
Trenggiling tetap diam, ia sangat pemalu tampaknya.
Kapten tak kehilangan akal, dia tahu trenggiling sangat menyukai semut dan rayap. Kaptenpun berinisiatif mencari sarang semut atau rayap.
“Kamu jangan kemana-mana yaaahhh….aku mau memberikan kamu hadiah sekantung sarang semut atau rayap.”  Kapten berkata kepada Trenggiling sambil berlari masuk hutan dengan cepat.
Sebagai seekor beruang madu, kapten hafal sekali dimana pohon yang banyak berisi sarang rayap dan semut. Sebentar kemudian, kapten sudah keluar dari hutan sambil membawa sekantong sarang semut dan rayap.
“Ini….ambillah….” Ucap kapten sambil mengasongkan kantung itu ke Trenggiling.
Mencium aroma lezat semut dan rayap membuat Trenggiling membuka lingkaran badannya. Sambil tertunduk malu, Trenggiling mengambil kantong itu dan mengucapkan terimakasih.
“Hmmmm….terimakasih kapten…..namaku Amijubi”
“Senang sekali dapat berkenalan denganmu Amijubi, maukah engkau menerima tawaranku untuk ikut bermain dalam klub 5?”
“Aku mau kapten, tapi aku mau menghabiskan dulu makanan lezat ini” Amijubi menerima tawaran kapten dengan mata berbinar karena rasa nikmat yang tercipta dari mulutnya.
“Terimakasih Amijubi, nanti setelah pertandingan selesai aku akan mencarikan lebih banyak lagi makanan lezat itu untukmu”
“Terimakasih kapten” Ucap Amijubi dengan semangat besar.
Sore itu, Klub 5 berhasil memenangkan pertandingan melawan klub 6 berkat kelincahan Amijubi si Trenggiling.  Amijubi dengan lincahnya membawa bola sepak sambil menggulungkan badannya dan menendang keras-keras ke gawang lawan dengan menggunakan buntutnya yang kuat dan bersisik tajam. Panjang buntutnya adalah setengah badannya. Semua orang gembira dan terpukau dengan permainan Amijubi si pemain baru. Mereka bersorak-sorak menyemangati Amijubi. Hari ini, Amijubi menjadi maskot kebanggaan klub sepak bola hutan tropis.
Namun sayang, Amijubi si Trenggiling kelelahan ketika harus bertanding di final. Badannya yang hanya seberat 8 kilogram, tidak mampu melawan kekuatan pemain lawan yang beratnya berkali-kali lipat di atasnya. Klub 5 akhirnya  hanya mampu meraih juara kedua.
Singa sang Raja Hutan Tropis sangat bahagia malam itu, karena seluruh rakyatnya menikmati pertandingan sepak bola kali ini dengan semangat yang lain. Semangat baru itu tak lain ditimbulkan oleh Amijubi si Trenggiling.
Amijubi yang kelelahan di bopong ke rumahnya oleh seluruh rakyat hutan tropis secara bergantian. Senyum lebar tetap diberikan oleh Amijubi walaupun badannya lelah sekali.
Kapten klub 5 menunaikan janjinya. Ke-esokan harinya telah berjejer berkantung-kantung semut dan rayap di depan rumah Amijubi. Ternyata yang memberikan hadiah makanan lezat itu tidak hanya kapten klub 5, namun juga seluruh penghuni hutan tropis, termasuk hadiah dari sang Raja. Mereka semua sangat mencintai dan bangga dengan Amijubi.
Amijubi si Trenggiling tersenyum senang bersama keluarganya.
***************
Purwakarta,  29 September 2012,  pk: 02.33 am
Pesan Moral :  Janganlah malu dan takut untuk mencoba hal yang positif.  Kita tidak akan tau seberapa besar kemampuan kita sebelum kita mencoba. Mari beranikan diri untuk mencoba hal yang baik.
info terkini : Trenggiling adalah binatang langka yang dilindungi. Karena kelezatan dagingnya dan khasiatnya untuk obat-obatan, banyak Trenggiling yang diburu dan diperjual belikan secara ilegal.  Bulan juni tahun 2012, terbongkar upaya penyeludupan daging dan sisik Trenggiling sebanyak 18.000 kg !
info terkini: Trenggiling menjadi maskot Piala Dunia Sepakbola 2014 di Brazil.

cerita suri,chiko dan burung liar

Persahabatan Suri, Chiko dan Burung Liar

dongeng anak
http://cahayacinta.com
Suri adalah anak yang baru berumur 3 tahun, dia belum bisa membaca karena belum sekolah dan belum belajar mengenal huruf dan angka. Tiap hari dia selalu bermain dengan beragam mainan boneka dan kucing kesayangannya.
Kucingnya bernama Chiko, dia adalah kucing berwarna putih yang senang melompat. Chiko dan Suri biasa bermain di ruangan tengah bersama keluarganya. Sesekali mereka juga bermain di halaman depan. Di sana ada rumput dan pepohonan yang menyejukkan.
“Suri… Ayo sarapan dulu..”
Mama memanggil Suri dari dapur. Chiko menghampiri mama sambil melompat-lompat. Dia seperti mengerti bahwa makanan untuknya juga sudah disiapkan. Suri mengikuti Chiko sambil memegang boneka komodonya yang terbuat dari kain yang lembut. Boneka itu terus Suri bawa sepanjang hari, bahkan hingga dia tertidur.
Suri dipangku mama untuk duduk di kursi meja makan. Mama mengambil sendok yang terbuat dari plastik untuk Suri. Suri memang belum bisa makan sendiri, sendok itu hanya dia pegang saja. Mama yang menyuapi Suri.
Satu kali mama menyuapi, Suri kemudian ikut memperagakan menyuapi boneka komodonya. Dia tidak mengambil bubur seperti yang dilakukan mama. Suri hanya pura-pura tidak ada ada makanan apapun untuk boneka komodonya.
“Ma, ci Komona cekalang mau banak makan telul, bial cehaaaat…”
Begitulah Suri berkata. Mama sudah mengerti bahwa Suri ingin ditambah telurnya pada suapan kali ini. Sebelumnya Suri memang tidak suka telur, tapi karena mama pernah menceritakan tentang anak yang tidak suka makan telur, maka Suri mulai mau memakannya.
“Nah, Suri juga harus banyak makan telur ya, supaya tidak seperti anak yang mama ceritakan kemarin,  kalo tidak makan telur jadi tidak sehat dan tidak bisa bermain lagi dengan mainan- mainan yang banyak”.
“Culi mau jadi anak cehat, Maa…”
Kata-kata Suri memang belum begitu jelas. Meski demikian, mama dan papa sudah mengerti dengan apa yang dikatakannya. Sesekali Suri juga sering menyanyikan lagu anak-anak, seperti lagu “Topi Saya Bundar,“ dan “Naik Kereta Api”. Suri senang sekali menyanyikan lagu itu ketika bermain dengan Chiko.
“Nah itu baru anak papa dan maa…”
“Maaa….”
Suri menjawab sambil menunjuk dengan sendok plastiknya ke arah mama. Lalu ketika mama akan menyuapi, mulutnya dengan sengaja ditutup, Suri memang suka menggoda mama dengan cara itu.
“Eeeeh, masa begitu. Hayo buka mulutnya, jangan mau kalah sama Chiko. Tuh ikannya si Chiko sudah hampir habis.”
Dengan cepat Suri menoleh, memandang  ke arah yang ditunjuk mama dengan isyarat itu. Di sana terlihat Chiko sudah memakan lebih dari setengah ikan yang utuh tadi. Chiko makan di samping kanan meja makan.
Melihat itu Suri jadi bersemangat untuk menghabiskan sarapannya. Dia tidak mau kalah cepat dengan Chiko. Sambil makan, sesekali ia menoleh ke arah Chiko yang tidak peduli dengannya dan mama. Chiko terus saja makan dengan posisi membelakangi mereka.
Selesai makan Suri kemudian minta diturunkan dari tempat duduknya. Suri bersorak karena telah mengalahkan Chiko yang masih makan. Namun Chiko tidak terpengaruh, dia tetap saja makan walaupun Suri mengejeknya.
“Hollee… Chiko kalaaaah…” Suri meledek Chiko sambil melompat-lompat. Suri kemudian dibawa mama untuk mandi dan ganti pakaian. Lalu mereka menuju ruangan tengah untuk menonton si Unyil,  tayangan televisi kesukaan Suri. Dia selalu menontonnya tiap hari.
Sementara mama mulai menyapu lantai rumah. Mama heran melihat beras yang berceceran di depan rumah, hingga sepanjang jalan menuju ke arah dapur. Memang tidak terlalu banyak, bahkan jika tidak diperhatikan dengan seksama, beras itu hampir tidak terlihat.
Beras yang berjatuhan itu ternyata berasal dari karung beras yang ada di dapur. Tanpa pikir panjang mama langsung membereskan karung beras yang sudah terbuka bagian atasnya itu. Dia berfikir mungkin Suri dan Chiko yang memainkannya.

“]cerita anak
***
Keesokan harinya, Suri pagi-pagi sekali sudah meminta pepaya dan pisang kepada mama. Tentu saja mama tidak memenuhi permintaan tersebut, karena terlalu pagi untuk makan buah-buahan. Selain itu, Suri juga memang belum sarapan, mama takut jika Suri nanti sakit perut.
“Itu bukan untuk Culi, tapi untuk bulung-bulung teman Culi…”
Mendengar perkataan Suri itu, mama mengernyitkan dahi. Dia kemudian bergegas menuju ke teras depan rumah. Karena tiap pagi Suri selalu bermain bersama Chiko di sana. Mama  penasaran dengan apa yang dikatakan Suri.
Teras tersebut langsung berhadapan dengan halaman rumah yang berumput hijau. Di sana sudah ada dua kulit pisang yang terkoyak seperti telah dimakan oleh burung. Tapi tidak ada satu pun burung  di sana.
Ketika bertanya kepada Suri, dia menjawab bahwa burung-burung tersebut sangat banyak. Tapi tidak mau bertemu orang dewasa, karena takut akan ditangkap dan dimasukkan ke dalam kurungan.
Suri meminta mama untuk menyimpan buah pepaya di depan rumah. Suri merengek dan menangis, karena mama tidak mau menyimpan pepaya tersebut di sana. Akhirnya mama menuruti saja. Mama meletakkan satu buah pepaya yang masih utuh dalam nampan plastik di teras depan rumah.
Lalu Suri dan mama kembali ke meja makan untuk sarapan. Mereka pun kemudian sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Hingga mama lupa ada sebuah pepaya yang disimpan di depan teras rumah.
Tidak berapa lama mama terkejut, ketika menyapu lantai rumah dan sampai di teras tempat menyimpan pepaya, ternyata pepaya tersebut sudah habis. Tinggal serpihan-serpihan kulitnya saja yang berserakan.
“Itu dimakan teman-teman Culi”
Suri berkata dari belakang mama, Chiko pada saat itu melompat-lompat meraih boneka Komodo yang dipegang Suri. Mama terdiam beberapa saat, tidak percaya karena tidak mendengar suara burung apapun yang mungkin memakan pepaya tersebut.
“Meleka dali hutan, kalena hutannya lucak maka meleka mau kanan dicini, Maa…”
Mama tidak berkata apapun. Dia hanya menatap tajam ke arah Suri yang berkata sambil mengelus boneka kesayangannya itu. Suri berkata dengan serius, hingga mama merasa bingung. Apakah benar apa yang dikatakan Suri tersebut? setahunya, hanya burung pipit saja yang ada di daerah sana. Sesekali mama melihat burung itu makan beras yang ditabur di halaman depan. Tapi tidak pernah melihat burung pemakan buah-buahan yang banyak, sebanyak yang  bisa memakan satu buah papaya dalam waktu singkat seperti itu.
Sejak itulah, setiap hari mama selalu menyimpan sebuah pepaya dan satu piring beras di halaman depan rumah. Setiap hari juga pepaya dan beras itu selalu habis, walaupun dia tidak pernah melihat burung –burung seperti yang dikatakan Suri. Pepaya dan beras itu memang di habiskan saat mama sedang memandikan Suri.
dongeng nusantara
http://farm2.static.flickr.com
***
Pagi ini Papa Suri sudah datang dari luar kota. Dan seperti biasa mama sudah menyiapkan makanan burung di halaman depan walaupun tidak pernah melihatnya. Karena penasaran, kali ini Suri disuapi dan dimandikan oleh papa. Sementara itu, mama duduk mengintip dari balik jendela kaca ruangan depan. Mama benar-benar ingin melihat burung yang memakan papaya dan beras itu.
Sudah hampir dua jam mama duduk menunggu di teras, hanya ada dua ekor burung pipit yang terlihat makan beras di sana. Mungkin karena ada mama mereka jadi terlihat gelisah, setelah mematuk beras, burung-burung itu langsung melirik ke sekeliling sambil bersuara.
“Ma, meleka tidak akan makan lagi di lumah kita. Meleka cudah menemukan hutan yang balu.”
Suri sudah selesai sarapan dan dimandikan oleh papa. Suri bilang  bahwa burung-burung itu memang sudah beberapa hari ini menemukan hutan yang baru. Mereka hanya datang ke rumahnya untuk menjaga Suri sekeluarga. Karena papa Suri sedang bertugas ke luar kota.
Mendengar itu, mama hanya menggeleng-gelengkan kepala. Mama tidak mengerti dengan yang terjadi satu minggu ini. Keanehan yang memang baru kali ini saja dirasakannya.
Papa Suri tidak begitu menanggapi ketika mama menceritakan keanehan tersebut. Papa malah asyik bermain dengan Suri dan Chiko. Sementara itu, mama mulai membereskan pepaya dan beras yang sudah di tinggalkan burung pipit beberapa menit yang lalu.
Pada malam harinya, hujan deras  turun dengan petir yang menggelegar. Suri jadi terbangun, karena angin kencang mulai terdengar menerbangkan genteng yang ada di atap rumah. Suaranya sangat  keras sekali, Suri dan keluarga sangat ketakutan. Mereka kini berkumpul di ruangan tengah sambil berdoa.
Badai topan tersebut terjadi sekitar satu jam. Kini angin kencang sudah tidak terasa berhembus lagi. Tinggal hujan yang masih turun, tapi tidak terlalu deras seperti sebelumnya. Pada saat itu listrik sudah tidak menyala lagi, mungkin ada kabel yang tertimpa pohon tumbang. Syukurlah Suri dan keluarganya masih memiliki lilin sebagai penerangan darurat.
Tiba-tiba, terdengar suara orang mengetuk pintu. Ketika Papa Suri membukanya, ternyata tetangganya yang datang meminta pertolongan. Dia ingin menginap di rumah Suri, karena atap rumahnya terbang tertiup angin. Tak lama kemudian, beberapa tetangga juga datang menyusul. Mereka bertujuan sama, ingin menginap malam itu karena rumah mereka rusak dan tidak dapat melindungi dari hujan yang masih turun. Mereka pun tidur di sana bersama pada malam itu. Suri dan orang tuanya tidur di kamar, sementara yang lain di ruangan tengah dan kamar tamu.
Pagi harinya, ketika matahari baru samar terlihat. Kegaduhan di sekitar rumah Suri terjadi. Mereka adalah orang orang yang mengobrol di sekitar rumah Suri. Papa dan mama mulai keluar untuk mencari tahu penyebabnya. Sementara itu Suri berdiri di depan jendela, setelah dia meminta mama untuk membukakan jendela tersebut.
“]rumah kartun
Ketika sampai di halaman depan, ternyata sudah berkumpul banyak orang di sana. Mereka melihat ke atap rumah Suri. Di sana ada ribuah burung yang melindungi rumah Suri sejak semalam. Itulah yang membuat rumah Suri tidak kebasahan waktu hujan, sayap-sayap burung itu terbuka lebar dan dirapatkan dengan sayap burung yang ada disampingnya.
Tak lama kemudian, ribuan burung itu satu persatu terbang meninggalkan rumah Suri, tinggallah kini atap rumah Suri yang sudah tidak ada  gentengnya, rupanya sejak semalam genteng itu sudah terbang ditiup angin. Burung-burung itulah yang menggantikan genteng yang berterbangan tersebut.
Suri melambaikan tangan dari jendela kamar. Dia mengucapkan terima kasih kepada teman-temannya tersebut. Beberapa burung sempat hinggap di jendela kamar, mereka seolah mengucapkan selamat tinggal kepada Suri. Kemudian merekapun terbang menyusul ribuan temannya yang terbang untuk pulang ke hutan barunya.
Chiko duduk mematung di samping Suri, dia mengeong mengikuti ucapan terima kasih dan perpisahan Suri, kepada burung-burung yang berterbangan meninggalkan mereka.

cerita janji ayah

Janji Ayah


Cerita anak
http://www.laptopinyo.com
Rumpika sangat senang sekali, ia yakin Ayah akan memberi hadiah yang Rumpika ingini. Bukankah Ayah berjanji untuk memenuhi keinginannya jika nilai di rapornya bagus ?  Terbayang di matanya sebuah Laptop berwarna merah jambu dengan mouse Hello Kitty. Sudah lama sekali Rumpika mengingininya.
Sampai di rumah, Rumpika dengan bangga memperlihatkan buku rapornya pada seluruh keluarga. Semua memuji Rumpika dan tersenyum bangga. Rumpika senang sekali, ia tak sabar menanti kedatangan Ayah dari kantor.
Pukul 17.00, deru mobil terdengar memasuki halaman rumah.
” Ayah pulanggg…….! “  Teriak Rumpika sambil melepaskan headset HP nya dan berlari menuruni anak tangga.
” Ayah….”  Rumpika menyapa sambil menciumi tangan Ayah. Di ambilnya tas kerja Ayah dan di taruhnya di ruang kerja.
Rumpika memandang dengan tidak sabar, ia menunggu saat Ayah duduk di sofa depan tv sehabis mencuci tangan.
Akhirnya, saat itupun tiba. Ayah duduk di depan tv.
” Ayah……”  Ucap manja Rumpika penuh senyum.
” Sayanggg….” Ayah menjawab sambil membuka lebar kedua tangannya, tanda menyuruh Rumpika memeluknya.  Rumpika memeluknya keras-keras. Rumpika sangat sayang pada Ayahnya.
” Ayah….aku juara kelas ” Ucap Rumpika sambil melepaskan pelukannya.
” Wahhh….hebat anak Ayah…..! Mana rapornya ? “.
” Ini…”  Rumpika menyodorkan rapor.
Terlihat senyum lebar Ayah melihat nilai-nilai Rumpika, Ayah  bahagia.  Rumpika tak sabar untuk menagih hadiah dari Ayah.
” Hmmm…..kamu mau kado apa….? “  Ayah bertanya penuh kasih sayang.
” Aku mau laptop seperti yang aku tunjukkan 6 bulan lalu “  Berbinar mata Rumpika ketika mengucapkannya.
Ayah terdiam beberapa saat. Senyumnya menghilang, pandangannya di alihkannya pada Bunda yang duduk di sofa kanan.
” Bagaimana Bunda ? Rumpika masih mengingini laptop itu ”
” Laptop yang Rumpika miliki masih bagus kan…?  Laptop canggih dan baru dibeli satu tahun yang lalu ” Bunda memberikan pendapatnya.
” Tapi, ini laptop keluaran terbaruuuuu…. “  Sergah Rumpika.
” Laptop yang kamu miliki belum bisa kamu optimalkan fungsinya, sekarang kamu mau yang lebih canggih lagi ” Imbuh Bunda, tanda ia tak setuju Ayah memenuhi keinginan Rumpika.
Mendengar jawaban Bunda, Rumpika hampir menangis.  Rumpika tahu, Ayah akan mendengarkan perkataan Bunda, itu artinya keinginan Rumpika tidak akan terpenuhi. Ayah sangat bijaksana, ia tahu isi hati Rumpika. Ayah tak ingin Rumpika bersedih di hari yang bahagia ini. Walau bagaimanapun, Rumpika pantas untuk mendapatkan hadiah dari perjuangannya selama satu tahun ini. Perjuangan yang tidak mudah, penuh kedisiplinan belajar dan tidak membuang waktu untuk hal-hal yang tak berguna.
” Sini sayang….” Ayah meraih Rumpika dalam pelukannya.
” Nanti malam kita pergi, okey…..? “  Ucap Ayah di sertai senyum. Ayah sudah mengambil keputusan.
” Terimakasih Ayah……” Rumpika kembali ceria. Ia berlari ke kamarnya sambil bernyanyi-nyanyi kecil.
***************
cerita anak
http://www.wallcoo.net/
Pukul 19.00, Ayah mengajak seluruh keluarga untuk makan di luar, syukuran kenaikan kelas Rumpika dan juara kelas. Seluruh keluarga senang sekali.
Sesampainya di Restauran yang di tuju, Ayah dan Bunda tidak mengajak mereka turun. Mereka menunggu di dalam mobil. Semuanya saling menatap keheranan, tidak biasanya seperti ini.
Setengah jam menunggu, Ayah dan Bunda keluar dari Restauran, di kedua tangan mereka penuh dengan kantong plastik berisi makanan.
” Kok beli makanan, tapi kita gak makan di dalamnya ?  ” Fuad si bungsu bertanya tanpa berharap dijawab.
” Iya yaaahhh……aneh….”  Bunga menimpali.
” Sudaaahhh….sabarrr….sini duduk lagi yang manis ” Embah menasehati sambil meraih cucu-cucunya ke kursi mobil.
Ayah membuka bagasi mobil dan memasukkan semua makanan. Sesaat kemudian mereka melanjutkan perjalanan. Fuad dan Bunga tidak dapat menyembunyikan keheranannya, mereka sibuk bertanya pada Ayah dan Bunda.  Namun, Ayah dan Bunda berahasia !
*****************
Tak berapa lama, mereka memasuki halaman sebuah rumah. Rumah tua yang besar. Terlihat tiga orang dewasa keluar bersama sepuluh anak kecil seusia Rumpika dan adik-adiknya, mereka tersenyum malu-malu menyambut kedatangan Rumpika sekeluarga.
Setelah saling bersalaman, keluarga Rumpika dipersilahkan untuk masuk dan duduk lesehan di ruangan tengah. Setelah kata sambutan dari Ayah Rumpika dan do’a dipanjatkan, mereka pun makan bersama. Anak-anak itu terlihat senang, apalagi ketika di akhir acara, Ayah menyuruh Rumpika memberikan sebuah kado kepada salah seorang anak disana.
Ayah dan Bunda menyuruh anak itu membuka kado dari Rumpika, alangkah kagetnya Rumpika ketika di lihatnya isi dari kado tersebut.  Laptop Rumpika !
Rumpika melongo dan sedikit bingung, namun suara Ayah membuat Rumpika tersdar dari keheranannya.
” Rumpika, ini kado dari Ayah dan Bunda “  Ayah dan Bunda menghampirinya dengan senyum mengembang.
” Ayo…buka ” Bisik Bunda.
Dengan cepat Rumpika membuka kado di tangannya.
” Terimakasih Tuhan…..! ” Pekik kecil Rumpika. Dipeluknya Ayah dan Bunda bergantian. Rumpika mendapatkan apa yang dia ingini.
” Mari kita duduk lagi ” Ayah mengajak mereka semua kembali lesehan, dan kembali berbicara.
” Rumpika, rumah ini dihuni oleh sepuluh orang anak yatim piatu. Yang tadi menerima hadiah laptop milikmu adalah Hani, sama seperti dirimu, sejak kelas satu SD Hani selalu juara kelas “.
” Hani belum pernah dihadiahi sesuatu benda dari siapapun, jadi perayaan hari ini adalah perayaan untukl dua orang yang memang pantas untuk dihadiahi sebuah laptop “.
Tak terasa bulir air mata mengalir di pipi Rumpika. Rumpika bahagia mempunyai orang tua yang lengkap, menyayanginya, berharta dan sangat bijaksana.  Rumpika berjanji di dalam hatinya  untuk lebih giat lagi belajar dan tidak akan mengecewakan Ayah dan Bundanya. Rumpika berjanji  pula untuk selalu bersyukur atas apa yang diberikan Tuhan pada dirinya.
Hari ini, adalah hari yang sangat bahagia.
happy family

BERBAGI KEBAHAGIAAN DENGAN SESAMA ADALAH SANGAT MENYENANGKAN HATI.

cerita ceri sik boneka cantik

Ceri Si Boneka cantik

Ceri tinggal bersama teman-temannya di sebuah toko mainan di kota. Ia adalah satu dari beraneka macam mainan  di sana. Ada mobil-mobilan, kereta api, boneka sponge bob, shaun the sheep, Barbie yang selalu terlihat cantik dan lain-lain.  Toko itu selalu ramai di datangi anak-anak. Ceri terbuat dari kain yang lembut dengan kombinasi warna yang cantik. Ekornya panjang  seperti pelangi.Teman-teman Ceri biasa memanggilnya dengan nama Ceri si anak cendrawasih.
“Selamat pagi Cerii”. Teman teman Ceri menyapa serempak waktu melihat Ceri yang baru datang. Setiap hari  Ceri memang dibawa pulang oleh pemilik toko. Ceri adalah  satu-satunya boneka yang tidak menginap di sana, karena ia boneka yang langka. Jadi setiap pagi Ceri selalu diantarkan kembali  agar  bisa berkumpul  dengan teman temannya seperti saat ini.Ceri tersenyum sambil menjawab sapaan itu. Teman-temannya yang sudah ramai berjejer di rak warna pink yang cantik. Ah, sepertinya mereka akan  bermain sepanjang hari. Ceri senang bermain karena  dia juga jadi bisa belajar berbicara menggunakan Bahasa Inggris. Karena memang banyak boneka impor yang dibeli pemilik toko langsung dari luar negri.
Ceri mana yaa..
“Ceri, kenalin nih ada teman baru, dia datang dari Amerika, namanya Mickey”. Boneka yang bernama Komo mengenalkan teman baru kepada Ceri. Komo adalah komodo mungil berwarna hijau.Sedangkan teman baru mereka adalah boneka tikus yang lucu. Nama panjangnya ternyata Mickey Mouse. “Hi Mickey, how are you”  sapa Ceri. Mereka lalu mengobrol dan bermain bersama dengan yang lain. Ceri dan Unyil  mengenalkan berbagai budaya dan permainan Indonesia pada Mickey. Mickey terlihat senang, karena bertemu teman-teman baru yang baik dan ramah. Sekarang  Ceri dan teman-temannya bermain petak umpet. Yaitu permainan bersembunyi dan mencari di mana mereka yang  bersembunyi. Ternyata Mickey senang dengan permainan itu,. Katanya di Amerika juga ada, dinamakan “hide and seek”.
"Hi Mickeyy.."
Tiba-tiba ketika mereka sedang asyik bermain, seorang anak kecil datang mendekati. Ia tadi masuk ke toko bersama mamanya.  Ternyata anak itu suka pada Mickey. Ia mengambil Mickey dari rak  dan meminta pada mamanya untuk membeli Micky.  ”Cheers Mickey”. Mickey senang sekali, waktu dia dipeluk dan dicium. Anak itu sepertinya akan menyayangi Mickey.  Tapi ia juga sedih karena pasti harus berpisah dengan kawan-kawan barunya. Semua melambaikan tangan waktu Mickey sudah berada dekat pintu keluar toko. Karena sudah biasa dengan hal seperti itu  Ceri dan teman-teman tetap ceria. Mereka kemudian melanjutkan lagi permainannya.
Hari sudah sangat sore. Mereka sudah bermain seharian. Sekarang saat untuk  Ceri berpamitan pada Komo dan yang lain. Ceri bersiap untuk ikut pulang ke rumah pemilik toko. Meskipun begitu Ceri selalu senang karena besok pagi pasti akan bertemu dengan teman yang  baru lagi  atau dengan Komo temannya sejak lama. Begitulah keseharian Ceri. Selalu gembira dan bermain bersama dengan semua penghuni toko mainan itu. Mereka bersedih tapi juga  akan mengucapkan selamat kepada boneka yang akhirnya dibeli oleh pengunjung yang datang silih berganti.  Suatu ketika, Ceri terlihat tidak ceria seperti biasanya. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu. Teman yang lain ingin agar Ceri kembali seperti semula. Mereka mengajak Ceri bermain, tapi Ceri tidak bersemangat. Ceri masih saja terlihat bersedih.
“Ceri, kamu kenapa? Apa yang membuatmu bersedih.” Unyil bertanya kepada Ceri. Sementara yang lain ada yang duduk atau berdiri mengelilingi Ceri. Mereka tidak melanjutkan lagi permainannya, karena ingin mengetahui kenapa Ceri bersedih.
“Aku sedih, karena aku sudah lama sekali tinggal di sini. Tapi tidak  ada yang mau yang membawaku ke rumahnya. Mungkin aku kurang cantik dan tidak menarik seperti boneka yang lain” . Ceri berkata sambil terisak, nadanya terputus putus dan sangat pelan. Memang selama ini sudah banyak boneka yang datang dan pergi dari toko itu. Bahkan Sponge Bob dan Shaun Sheep sudah beberapa kali berganti. Anak-anak atau orang tua yang datang selalu memilih mereka. Tapi tidak ada yang menggantikan Ceri. Ia sudah begitu lama ada di toko yang selalu bersih dan wangi itu.
“Jangan bersedih Ceri, mungkin belum waktunya saja, kita kan masih bisa bermain bersama  di sini” Unyil menghibur Ceri.  Boneka lain mulai mendekati Ceri dan membelai punggung Ceri penuh kasih sayang. Ceri menunduk, dia terlihat meneteskan air mata.
“Kamu boneka burung yang cantik Ceri, kami senang bermain denganmu.  Boneka kelinci bernama Tooney juga menghibur Ceri . “Kamu baik dan cepat akrab dengan yang baru di sini,” Toneey bicara lagi. Tooney boneka dari luar negri juga, tapi dia sudah bisa bahasa Indonesia. Ceri yang mengajarkannya. Ceri memang suka mengajarkan bahasa Indonesia kepada temannya yang datang dari luar negeri. ” Iya,  kamu juga pintar, kamu kan bisa banyak bahasa asing”, kata unyil lagi.
Jangan bersedih Cerii...
“Terima kasih Tooney,  teman-teman, aku juga senang bisa main bersama kalian di sini. Aku hanya sedih karena mungkin tidak ada anak yang menyukaiku” kata ceri sambil tersenyum. Ceri tidak terlalu bersedih lagi sekarang. Dia sadar di toko itu ternyata ia punya banyak kawan yang baik. Mereka bisa selalu bermain bersama. Ceri masih tersenyum waktu teman-temannya mengusap air matanya. “Ayo kita bermain lagi!” teriak Tooney.  “Kita main tebak-tebakan yuuu!..”
Boneka-boneka itu  sudah tidak sabar ingin bermain lagi. Mereka berteriak dengan semangat. Ceri melompat riang seperti biasa. Beberapa temannya ada yang bertepuk tangan sambil mengikuti gerakan Ceri. “Tunggu teman-teman kita bersembunyi yuk! Itu ada anak yang mau mengambil Ceri. “  Tooney rupanya melihat seorang anak tengah berjalan-jalan di koridor. Ia bergerak bersembunyi ke balik tubuh Ceri.  Kawannya yang lain juga bersembunyi dan pura-pura berwajah cemberut. Mereka berbuat begitu agar Ceri dipilih anak yang terlihat sedang asik menatap mereka itu. Ceri berada di depan.  Ceri jadi yang paling terlihat.
Anak itu menjangkau Ceri tapi tangannya tidak sampai. Melihat itu, Tooney dan beberapa temannya mendorong Ceri lebih maju.  Mereka memang berada di rak paling atas. Hingga terlalu tinggi untuk anak perempuan yang baru berumur 4 tahun itu.” Tapi anak itu akhirnya berhenti mencoba meraih Ceri. Ia  pergi. Teman-teman Ceri jadi kecewa. Tapi, hey lihat itu dia kembali! Terlihat kepayahan  menyeret sebuah kursi. Rupanya pemilik toko tidak melihatnya. Ia memanjat naik ke kursi plastik warna hijau itu. Menggapai-gapai dengan tangannya. Nyaris jatuh tapi hup!.. ia berhasil menangkap Ceri.
Gadis kecil

Ceri senang sekali. Ia dipegang dan diangkat oleh anak itu. Tooney dan yang lain juga merasa sangat bahagia. Akhirnya ada orang selain pemilik toko yang akan membawa Ceri pulang ke rumah. Ceri sekarang dalam pelukan gadis kecil bermata sayu itu. Tapi hanya sesaat. Setelah itu Ceri ia taruh di samping rak yang kosong. Ceri tidak di bawa anak itu pada orang tuanya untuk dibayar. Ceri hanya dipindahkan saja. Anak itu malah mengambil Tooney yang dari tadi berada di belakang Ceri.
Ceri menunduk layu.  Dia merasa sangat sedih. Seketika keceriaan mereka sirna.  Tapi Ceri  tidak menangis kali ini, Ceri berusaha tegar. Ia tidak mau boneka-boneka manis teman bermainnya ikut bersedih  seperti dirinya. “Ayo  kita lanjutkan permainan kita tadi” kata Ceri bersemangat. Teman-teman ceri yang sejak tadi diam dan kecewa tak kuasa lagi menahan haru. Ceri memang berusaha menyembunyikannya, tapi tetap saja mereka dapat merasakan kalau Ceri sangat bersedih. Mereka kemudian mendekati dan memeluk Ceri. Mereka semua menangis. Suasana jadi hening.  Semua larut dalam kesedihan, cuma sesekali ada isak dan air mata mereka. Ceri melepaskan tangisnya dalam pelukan teman-temannya.
Tangis mereka terhenti ketika mendengar suara pintu toko terbuka. Seorang  Bapak masuk tergesa-gesa. Dia langsung berjalan ke arah mereka, terlihat mencari-cari sesuatu. Tiba-tiba ia tersentak dan senyum,  dia menarik Ceri dari pelukan Komo dengan cepat. Ia membawa Ceri ke pemilik toko, minta ceri dibungkus dengan kertas kado bermotif pita. Ia terlihat puas sekali. Ceri  yang tidak menyangka jadi agak linglung. Teman-temannya juga kaget dengan kejadian yang sangat singkat itu. Untungnya Ceri  sempat melambai sebagai tanda perpisahan mereka.  “Ceri, kami semua akan sangat merindukanmu.”  Komo berteriak dari atas rak sambil memandang ke arah pintu kaca. Semua melambai pada Ceri yang kini telah berada dalam kantung kertas bertuliskan “Syadza Toys and Dolls  Store”. Ceri telah dibawa pergi ke rumah baru yang diimpikannya sejak lama.
Ceri burung nan cantik

semut dan gajah

Semut dan Gajah

Tersebutlah, di sebuah negeri antah berantah. Kekuatan gajah sangat dominan dalam mengusai sebagian wilayah pasokan makanan bagi kehidupan binatang. Para gajah yang menguasai wilayah pasangan itu tidak ada lawan tanding yang seimbang. Bahkan harimau dan singa yang dijuluki sebagai raja hutan atau raja rimba sekalipun tidak berani memangsa dan mengganggunya. Kondisi inilah yang membuat para gajah begitu angkuh, sehingga mereka telah menganggap dirinya sebagai raja dari segala raja yang ada hutan.
“Hwa ha ha ha!” demikian tawa gajah yang menyombongkan dirinya, saat mengukur diri betapa golongannya jauh lebih kuat dari binatang rimba lainnya.
Tidak ada yang ditakutinya meski mereka memiliki taring besar seperti Harimau dan Singa sekalipun. Karena keduanya pastilah menghindar bila telah berpapasan dengan para Gajah yang dengan angkuh menghentak-hentak kaki ke bumi dan melambai-lambaikan belalainya seakan ingin merobohkan semua yang menghalangi perjalanannya.
****
Sementara itu semut kecil terinjak. Berhamburan menyelamatkan diri masing masing. Kawanan gajah tak perduli dengan apa yang ada di bawahnya. Mereka terus berjalan menuju tujuannya yang semula. Tak sedikitpun merasa bersalah akan apa yang telah terjadi saat itu.
Senyap tak bersuara. Hening tiada arti. Semut kecil yang berteriak diantara para gajah yang bergerombol. Meski teriak memekik makhluk kecil itu tetap tak akan terdengar. Karena dia berada dalam kekecilan yang pasti. Sementara dunia luas tetap saja enggan menoleh dan mencari dimana suara yang samar itu berawal.
Semut-semut kecil yang sedang ramai berkerja itu kini berkerumun kembali. Menyaksikan saudaranya yang terkapar. Kesedihan diantara mereka kini begitu mendalam. Karena kematian itu begitu mendadak. Tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Koloni itu kini kembali berhamburan. Saat rombongan gajah yang lain melintas. Dengan keangkuhan dan keganasan mereka. Beruntunglah kali ini tidak begitu banyak korban seperti sebelumnya. Karena koloni semut itu sedang tidak bekerja. Mereka memang sedang menyaksikan keluarga dan teman mereka yang tadi terinjak oleh rombongan gajah yang pertama.
Setelah keadaan sepi. Mereka yang bersembunyi di balik pepohonan itu kembali berkumpul. Dengan segara sang pemimpin pasukan pekerja koloni itu memutuskan untuk membawa para korban ke istananya. Istana yang berupa sarang didalam tanah.
****
Upacara sakral kini berlangsung. Para tokoh di kerajan semut berkumpul. Mereka melakukan ritual penghormatan terakhir. Terhadap saudara mereka sesama koloni yang menjadi korban. Mereka melakukan upacara itu dengan iringan doa dari semuanya. Supaya yang telah tiada itu mendapatkan posisi terbaik di sisiNya. Yang maha menguasai dari seluruh kekuasaan.
Upacara di tutup dengan isak tangis dan keresahan yang dirasakan seluruh koloni. Karena esok lusa bisa saja Keangkuhan dan kesombongan para gajah itu kembali terjadi. Karena mereka mendengar kata-kata terakhir dari gajah yang berlalu dengan ganasnya itu.
“siapapun kalian. Karna tidak menyingkir dari jalan kami. Maka terimalah akibatnya”
Begitulah kata-kata Gajah itu sambil berlalu. Tanpa melihat berapa banyak korban yang telah tiada. Para Gajah itu memang tidak takut dengan apapun dan siapapun.
Tiba-tiba dari paling belakang kerumunan ada yang berteriak.
“Ini tidak bisa di biarkan. Mereka terlalu sombong. Mereka terlalu angkuh hingga kematian saudara kita tidak dihiraukan. Bahkan mereka tidak menyadari semuanya”
“Betul saudara-saudara. Ini semua sudah keterlaluan” dari tengah kerumunan. dengan badan tinggi besar itu bersuara.
“Tapi bagaimana caranya? Sedangkan singa saja tidak berani mengganggu gajah. Pada siapa lagi kita akan meminta bantuan?” dari dekat altar istana, suara itu terdengar.
Setelah itu, kerumunan itu berubah menjadi suara-suara yang gaduh. Semua membicarakan tentang keangkuhan dan kekejaman gajah. Mereka merasakan sangat tertekan dan merasa sangat disakiti. Tiba tiba sang raja semut berdiri di atas altar. Seketika itupun suara-suara mereka berhenti. Mereka semua menunduk pertanda menghormat kepada sang raja.
“Rakyatku!. Kita semua memang sedang berada dalam posisi yang sangat sulit. Dan sebelum kita mengambil tindakan apapun. Kita tetap akan menyamakan dulu tujuan dan cara kita. Dan kita sebagai kaum yang sangat solid di dunia ini. jangan sampai terpecah belah. Kita harus tetap menjaga keutuhan kebersamaan kita. Oleh sebab itu sekarang juga aku dan seluruh perwakilan dari koloni smut akan mengadakan rapat. Jika sudah mencapai kesepakatan maka akan segera di beritahukan.”
Setelah itu Raja kemudian memasuki istana kembali. Untuk melakukan rapat mendadak itu. Dan rakyat kini tidak terlalu gaduh. Mereka menikmati hidangan dari kerajaan. Sebagaiamana biasanya. Karena kerajaan semut selalu memberi makan seluruh rakyatnya. Tanpa terkecuali dan tanpa di pilih-pilih. Sang raja sendiri tidak pernah melarang rakyatnya untuk menggunakan fasilitas kerajaan. Karena semua adalah hasil kerja rakyatnya.
Namun demikian, rakyat tidak pernah ada yang bersikap tidak sopan. Rakyat biasanya hanya menggunakan fasilitas seperlunya. Dan rakyat sangat menghormati dan segan kepada rajanya. Bahkan untuk duduk bersanding dengan sang raja saja tidak ada yang berani. Walaupun raja dan tidak pernah melarangnya. Demikia itu adalah rasa hormat rakyatnya, karena raja sangat menyayangi dan memperhatikan seluruh rakyatnya.
Beberapa jam berlalu. Rakyat kini kembali berdiri. Sang raja telah kembali berada di altar yang bisa digunakan untuk memberikan pemberitahuan pada rakyatnya.
“Rakyatku!..Kita sudah mendapatkan cara untuk memberikan pelajaran pada kawanan gajah….”
Raja terus memberikan cara-cara untuk melakukan peringatan keras pada kawanan Gajah. Beberapa pertanyaan di jawab raja dan para penasehat dengan sangat jelas. Dan pada saat itu juga, setelah semua jelas dan tidak ada yang ditanyakan, Semut sebagai kaum pekerja itu segera berangkat menuju kawanan gajah. Semut memang terbiasa bekerja dan berjalan di malam hari. Keseharian mereka memang tidak terlihat letih untuk bekerja. Siang dan malam.
****
Pagi menjelang. Ditengah keheningan hutan yang mulai beranjak terang. Tiba-tiba kegaduhan terdengar. Raja gajah yang tinggi besar itu mengamuk. Pohon besar yang ada diatara kawanan gajah ditabrak hingga bergetar. Raja gajah itu tersungkur kesakitan.
Gajah yang lain mulai berkerumun. Menyaksikan rajanya yang tergelatek kesakitan karena menabrak pohon besar. Dan tanpa diduga semuanya, raja kemudian bangkit dan kembali mengamuk. Gajah gajah lain tertabrak. Beberapa diantaranya langsung terjatuh.
“ampuuun!…sakiit…Ampuuun!” Raja gajah itu terdengar berteriak sambil berlari memutar. Pohon dan rerumputan kecil terlindas.
Dan raja gajah itu menabrak batu yang besar. Dia kembali tersungkur. Kepalanya terluka karena terbentur batu yang keras itu. Setelah terlihat tidak bisa berdiri lagi. Kawanan gajah berkumpul mengelilingi rajanya.
“Ada apa rajaku? Siapa yang telah lancang menyakiti kawanan gajah, akan kita hancurkan. Raja siapa yang berani menyakiti itu?” Putra Raja gajah bertanya sambil mengusap kepala raja gajah dengan belalainya.
Raja gajah tidak segera menjawab. Dia telihat tersenggal-senggal bernafas. Karena lelah berlarian. Matanya terlihat meringis menahan sakit karena tekena benturan dengan pohon dan batu besar. Kemudian dia berkata.
“Yang menyakitiku adalah semut”
Mendengar perkataan itu. Spontan semua kawanan saling berpandangan. Beberapa diantaranya ada yang cekikikan menahan tawa. Dan ketika Putra raja tertawa. Semua kawanan mulai tertawa terbahak. Bahkan ada diantaranya yang langsung berguling-guling karna tidak tahan menahan tawa.
Dalam sekejap Raja gajah memaksakan dirinya untuk berdiri. Dan dengan bantuan putra dan beberapa pengawal raja. Kini raja telah berdiri tegap. Semua gajah langsung berhenti tertawa. Meskipun diantaranya masih ada yang menutup mulut mereka dengan belalainya. Karena masih ingin tertawa. Gajah yang tertawa sambil berguling-guling langsung berdiri tegap dengan wajah pucat karena raja melihatnya dengan pandangan yang marah.
“Kalian semua dengarlah! Aku tidak main main kali ini. Para semut memang bisa menyakiti kita dengan sangat kejam” Raja berkata dengan keseriusan dan wajah yang meringis menahan sakit.
“Raja! Mereka begitu kecil. Jadi, bagaimana mungkin mereka bisa menyakiti kita?” Tanya gajah yang paling depan diantara kerumunan itu. Dia berada tepat di hadapan Raja gajah yang masih terlihat meringis sambil mengibas-ngibaskan daun telinganya yang lebar.
“Kita harus membalasnya! Kita bisa menghancurkan sarang dan seluruh penghuni di dalamnya raja. Kenapa kita tidak cepat bertindak?” gajah yang berada di samping Raja berkata sambil menghentakkan kakinya. Dia marah sekali kepada semut. Kemudian gajah yang lain mengangnguk sambil bergumam “ya! Kita harus membalasnya”.
Suasana menjadi gaduh karna obrolan para gajah yang merasa kesal dengan tingkah semut itu. Hingga obrolan mereka terhenti karena raja gajah berkata stengah teriak.
“Jangan ceroboh. Sebelum semut-semut itu menyakitiku tadi pagi. Raja semut telah memperingatkan. Dan kalian harus tau mereka kini berada dalam telingaku. Dan telinga kalian semua telah berisi semut yang sejak malam telah bergerak memasuki telinga kita. Dan malam nanti secara serempak mereka akan menyakiti kita semua. Menyiksa kita karena kita telah melukai mereka kemarin siang. Ini adalah pembalasan mereka”
Mendengar perkataan raja tersebut. Para gajah langsung panik. Mereka terlihat sibuk saling melihat telinga temannya yang ada di samping mereka. Dan ternyata benar semua telinga mereka telah di isi semut dari berbagai jenis.
“Raja! Bagaimana kita bisa mengeluarkan mereka dari telinga kami?” Tanya gajah yang ada di hadapan raja dengan panik.
“Tidak ada. Karna yang aku tau, semut sangat gigih dan kuat. Bahkan mereka lebih baik mati daripada melepaskan gigitannya. Itulah yang aku tau dari dulu. Semut itu memiliki kekuatan dan keteguhan di hati yang sangat tangguh”
“Jadi apa yang bisa kita lakukan?”
“sebelum mereka menyakitiku. Mereka juga telah mengatakan bahwa keinginan mereka adalah saling menghargai dan peduli terhadap sesama penghuni hutan. Dan ancaman itu tidak aku tanggapi hingga mereka menyakitiku. Awalnya aku juga tertawa, karna kekuatan kita memang jauh dibanding mereka. Karna kita lebih kuat dari mereka. Tapi semuanya itu salah, meskipun kita kuat, ternyata kekuatan itu tidak selamanya bisa membuat kita terlindungi. Bahkan kita bisa disakiti oleh kekuatan kecil dari semut-semut itu”
Mendengar perkataan raja. Semua gajah langsung tertunduk. Mereka menyadari bahwa tidak ada yang bisa dilakukan. Mereka ternyata bisa dikalahkan oleh kekuatan semut yang sangat kecil itu. Melihat semua terdiam, kemudian raja mulai berbicara lagi.
“Saat ini yang bisa kita lakukah adalah mencoba memahami diri kita sendiri. Bahwa kita memang selama ini telah begitu angkuh dan terlalu sombong dengan kekuatan kita. Singa sang raja hutan saja memang tidak pernah berani menggangu kawanan kita. Tapi hari ini. kita telah dikalahkan oleh kekuatan semut. Ini memang memalukan. Tapi kita tidak akan mendapatkan perlakuan ini jika kita menghargai kekuatan kecil mereka sejak dulu…”
Tiba-tiba Raja terdiam. Dia seolah mendengatkan sesuatu. Dan dengan gerakannya sang raja menyuruh semua kawanan untuk diam. Raja mengernyitkan dahinya, dia terlihat sangat konsentrasi.
Beberapa saat itu dilakukan Raja. Dan sepertinya raja sedang mendengarkan kata-kata dari raja semut yang ada di telinganya. Dan kemudian Raja mengeluarkan suara suara yang tidak bisa dipahami oleh gajah yang lainnya. Para gajah hanya diam dia melihat rajanya yang mengeluarkan suara aneh itu. Setelah itu kemudian raja berhenti dan dia mulai berbicara seperti biasa lagi.
“Rakyatku. Bersiaplah! Tadi adalah bahasa isyarat untuk para semut yang ada di lubang telinga kalian. Dan sekarang mereka akan keluar dari telinga kalian semua. Mereka memang tidak ingin menyakiti kita. Mereka hanya ingin menyadarkan bahwa tidak ada yang paling kuat sehingga melupakan mahluk yang lainnya”
Mendengar perkataan raja. Para gajah terdiam. Mereka kini merasakan dari telinga mereka kelar semut-semut kecil yang berbondong bondong. Pera gajah melihat semut keluar di telinga kewannya satu persatu. Barisan panjang itu kemudian terlihat berjalan menuju ke sbelah
****
Setelah kejadian tersebut. Para kawanan gajah tidak pernah lagi merasa dirinya paling kuat. Sehingga dia tidak pernah menyepelekan kekuatan kekuatan kecil seperti semut dan binatang yang lainnya. Karna memang mereka menyadari. Tidak ada kekuatan yang paling sempurna. Kekuatan besar itu pasti aka nada yang mengalahkan. Bahkan kekuatan mereka yang besar pun bisa dikalahkan oleh kekuatan kebersamaan koloni semut. Sejak itu mereka hidup berdampingan dan tidak pernah saling mengganggu.

Roger Tidak Suka Pisang


Liburan sudah lama berlalu, namun bagi Roger liburan kemarin adalah liburan yang sangat berkesan.  Roger menghabiskan liburannya kemarin di rumah nenek. Nenek tinggal di desa yang jauh dari kota. Nenek tinggal di daerah pegunungan tinggi, sehingga hawa di rumah nenek sangat dingin.
Roger senang sekali ketika mamahnya menawarkan untuk berlibur di rumah nenek. Walaupun rumah nenek tak seindah dan se-moderen rumah mereka, Roger sangat senang menginap disana.  Di hari terakhir sekolah, Roger langsung minta diantarkan ke rumah nenek.  Roger diantar supir ke rumah nenek, papah dan mamah belum libur kerja, mereka akan menyusul ke rumah nenek dengan segera.
Setelah lama berkendaraan, akhirnya Roger dapat menghirup udara pegunungan yang segar dan sejuk walaupun sinar mentari masih bersinar terik.  Kaca mobil sudah diturunkan sopir sejak memasuki daerah pegunungan. Itu adalah kebiasaan keluarga Roger, karena mereka ingin menikmati hawa gunung.
“Hmmmmm haruuummm…..”  Roger mencium bau khas pohon cemara yang tinggi besar dan tumbuh berjejer rapat.  Mobil akhirnya memasuki jalan menuju rumah nenek.  Roger menciumi bau yang sangat digemarinya dan membuatnya rindu dengan rumah nenek, bau bunga terompet putih.  Pohon bunga terompet putih banyak di tanam oleh nenek secara acak, agar harumnya menyebar, begitu kata nenek.
https://fbcdn-sphotos-b-a.akamaihd.net
Mobil berhenti di depan rumah nenek. Pintu rumah nenek sudah terbuka lebar, menanti kedatangan Roger. Pak Min dan istrinya tergopoh-gopoh keluar dari dalam rumah menyambut kedatangan Roger. Mereka menyambut Roger dengan ramah dan tersenyum hangat.
Roger berlari ke dalam rumah sambil memanggil nama nenek. Roger tau, nenek pasti sedang duduk nonton tv di ruang tengah.
“Neneeeekkk….Assalaamu’alaikuuummmm…..!”  Teriak Roger berulang-ulang sampai di ruang tengah. Namun ruangan itu sepi, tv tidak hidup dan tidak ada nenek disana. Hei, dimana gerangan nenek ?
Roger berlari memasuki kamar nenek, tak ada nenek disana. Dicarinya nenek ke semua ruangan rumah, namun nenek tak ada.  Akhirnya diputuskannya untuk bertanya kepada Pak Min.
“Pak Miiinn…..!”
“Ya cep Roger, aya naon? What happen kasep? Ada apah?” Tanya Pak Min dengan logat sundanya yang kental.
“Nenek mana? Kenapa Nenek tidak menyambutku? Bukankah Nenek tau Roger mau datang ke sini?”
“Itu cep Roger, Nenek sedang pergi ke kebun . Mulai hari ini dan beberapa hari ke depan beberapa buah-buahan bisa dipanen serentak” .
“Roger mau kesana!  Roger mau lihat Nenek”
“Yaaaa sebentar cep Roger, Pak Min bawa barang-barang cep Roger yang lain ke kamar Nenek.”
Sebentar kemudian Pak Min telah selesai dengan pekerjaannya dan merekapun berjalan menyusuri jalan setapak menuju kebun buah.  Tanah nenek sangat luas, banyak bunga dari berbagai jenis ditanam oleh nenek. Karena pengaruh cuaca yang sejuk, bunga-bunga itu tumbuh subur, besar dan wangi sekali.
Roger mulai memasuki kebun buah, banyak sekali buah ditanam disana, jenisnyapun berneda-beda. Nenek sangat pandai dan rajin dengan kebunnya, sehingga bisa menghasilkan buah yang banyak, besar dan lezat rasanya.  Dari jauh di dengarnya suara berisik orang bekerja, Rogerpun berlari mendekati suara itu sambil berteriak gembira.
“Neneeeekkk….Roger dataaannnggg……!”
“Rogeeerrrr….Nenek di siniiii……”  Suara nenek terdengar jelas dan nyaring ditelinga Roger.  Dilihatnya seorang perempuan melambaikan tongkatnya. Itu nenek. Roger berlari dan memeluk nenek. Kangen sekali tampaknya Roger kepada neneknya. Nenek memeluk dan menciumnya dengan bahagia.
“Kamu tambah tinggi Roger, padahal baru tiga bulan yang lalu Nenek terakhir melihatmu”
“Khan dikasih makan Nek”
“Yaaa iyalaaahh…masyak anak secakep dan sepandai ini gak diurus?”  Ucap nenek sambil mencubit dua pipi Roger penuh kasih sayang.
“Ayo kita pulang, Nenek sudah selesai memanen hari ini” Ajak nenek sambil memeluk badan Roger dan melangkah pulang ke rumah.
********************
Setelah mandi sore, Roger menemui nenek yang sedang asyik di meja makan.  Mulut nenek mengunyah pisang sambil sesekali menyeruput susu hangat.  Roger merasa aneh dengan kebiasaan baru neneknya itu.
“Ayo sini…..minum juice pepaya dulu ” Nenek memanggilnya sambil menarik kursi di sebelahnya.
“Nenek kok minum susu sambil makan pisang syiihhh….?  Makan pisang saja Roger gak mau, enek.  Apalagi  makannya sambil minum susu putih, tambah enek ” Roger berkata sambil menggidikkan tubuhnya. Nenek tertawa melihat reaksi badan dari cucunya.
“Haaa…haaaa…….Nenek tau Roger tidak suka pisang. Nenek waktu kecil  juga tidak suka pisang, namun setelah tau manfaat pisang yang sangat besar, nenek mulai memakannya walaupun tidak setiap hari dan dalam porsi yang sedikit.”
“Iyaaaa Neeekkk…..? Nenek  juga gak suka pisang… dulunyaaaa ?” Nenek menganggukkan kepala sambil melanjutkan ceritanya.
“Nenek bertambah suka dengan pisang sejak pulang dari rumahmu. Papahmu yang membuat nenek menjadi suka memakan pisang”
“Papah ….? Kok Papah gak kasih tau Roger kalau Nenek gak suka pisang.  Kok Papah juga syiihh yang buat Nenek suka pisang. Kok Papah gak buat Roger jadi suka pisang yaaahhh….?”  Roger memberondong nenek dengan perasaan aneh.
Nenek tersenyum dan melanjutkan ceritanya.
” Roger tau khan kalau Nenek mengidap penyakit tekanan darah tinggi ? Sedangkan Rumah sakit jauh dari sini. Dan Papahmu tidak mau Nenek bergantung terus kepada obat dokter. Tak baik kata Papahmu. Jadi  selain menyuruh rutin memeriksa tekanan darah dengan alat digital, Papahmu juga menyuruh Nenek untuk memakan pisang bersama susu putih jika tekanan darah Nenek naik. Papahmu benar, sekarang tekanan darah Nenek stabil tanpa harus bergantung kepada obat dokter ” .
“Sehebat itu ya Nek…manfaat dari pisang?”
“Iya, karena pisang kaya akan kandungan energi, potasium dan vitamin B , banyak atlit yang makan pisang ketika sedang istirahat. Supaya tubuhnya cepat mendapatkan energi kembali dan otaknya tidak tegang”
“Kok pisang bisa membuat otak gak tegang?”
“Itu dikarenakan  kandungan potasiumnya, malah menurut buku yang Nenek baca potasium dalam pisang dapat mengurangi resiko stroke sampai 40 % bila dimakan secara rutin”
“Roger gak ngira pisang mempunyai manfaat yang sangat besar”
“Ada lagi manfaatnya yang lain”
“Apa tuh Nek?” Roger mulai penasaran.
“Karena pisang mengandung kalium, maka sangat baik untuk ginjal. Pisang juga baik untuk orang yang sakit maag. Jadi Roger kalau mau sehat,  setiap hari bawa pisang ke sekolah. “
“Ehhh pisang juga bikin tubuh kita gak anemia lho ! Makanya monyet gak pernah kekurangan darah. Khan gak lucu kalau monyet mendadak lemas ketika sedang berayun-ayun di pohon. Bisa jatuh dia ”  Nenek mencoba melucu. Rogerpun tertawa. Pandangannya terhadap pisang mulai berubah.  Namun Roger masih ragu untuk memakan buah yang satu itu.  Nenek mengerti jalan pikiran Roger.
“Ayo minum juicenya, sambil nungguin Bi Anah selesai menggoreng kudapan sore”
Roger meminum juice pepaya yang enak rasanya itu sampai habis. Sementara itu Bi Anah sudah selesai menggoreng. Bau wangi gorengan terhidang di depan Roger. Nenek mengambil piring kecil dan garpu, lantas menyuruh roger memakan gorengan wangi tadi.
Roger memakan gorengan hangat tadi dengan lahap. Satu, Dua, Tiga, akhirnya empat buah gorengan habis dimakannya dengan nikmat. nenek tyersenyum bahagia melihat cucunya lahap makan.
“Enak yaaahhh gorengannya ?”  Nenek bertanya.
“Iya Nek, enak sekali. Apa nama gorengan tadi ?”
“Namanya kutu kambing”
“Haaah….?! Kutu kambing….? Nenek jorok iiihhh…..Masyak kutu kambing dijadikan nama makanan?”
“Nenek gak bohong…..namanya memang kutu kambing……dibuat dari tepung terigu, telur dan pisang yang di haluskan “
“Haaahhh…..?! Pisaaanggg…?” Nenek menganggukkan kepalanya.
“Kok gak berasa pisangnya?”
“Ternyata Roger bisa makan pisang dengan lahap khaaann…..?” Nenek tersenyum menggoda Roger yang tersipu malu.
http://www.qiaodu.net/
***********
Keesokan harinya nenek membuat banyak panganan dari pisang dan semuanya  ”Yummmyyy!… ” kata Roger.  Nenek membuat pisang ambon yang dimakan dengan es krim coklat dan stroberry, lalu ada kue bolu pisang, lalu ada pisang raja bakar yang di atasnya di siram susu kental manis putih dan coklat ceres, lalu ada pisang raja yang dibalut sagu hijau dan dimakan dengan santan plus es batu…..wuuihhh seger…..
Itu sebabnya liburan kali ini sangat berkesan bagi Roger. Karena berkat berlibur ke rumah Nenek, Roger jadi menyukai pisang.
anak nusantara
https://fbcdn-sphotos-e-a.akamaihd.net/
***********
Purwakarta, 30 September 2012.
Pk : 02.00 am
Pesan Moral : Tanamlah banyak pepohonan dan tanaman di lingkunganmu agar udara bersih dan sejuk tercipta. Bila tak suka akan suatu makanan atau minuman, tidak ada salahnya mencari tau tentang hal yang tidak kita sukai itu di internet agar kita menjadi terbiasa untuk mencari tau akan segala sesuatu sebelum memutuskan