Kamis, 30 Mei 2013

cerita burung kaswari


Burung Kasuari Tersandung Batu Berlian

http://www.kicaumania.org
Hutan Tampati terlihat rimbun dari jauh, hutan itu belum terjamah tangan manusia, artinya belum ada manusia yang menebangi pepohonannya dan membuka ladang.   Di hutan itu hidup bermacam-macam binatang, namun jenis burung jauh lebih banyak dibandingkan binatang lainnya.
Seperti biasa, dikala mentari muncul dari arah timur, burung-burung berkicau bersahutan.  Ayam jantan berkokok panjang dan melengking, membuat semua penduduk hutan meregangkan badannya dan menguap lebar.  Penduduk hutan keluar dari sarangnya dengan mata bekerjap-kerjap, tanda matanya sedang menyesuaikan dengan cahaya matahari pagi.
Tak terkecuali burung kasuari, seekor binatang yang tak bisa lari namun perawakannya mirip burung.  Burung kasuari sangat besar, beratnya bisa mencapai 50 kg dan tingginya satu meter lebih. Kakinya seperti ayam, namun bercakar 3. Cakarnya sangat tajam.
Burung kasuari sangat nakal, kemarin ia mengejar-ngejar kancil sampai kancil tercebur di sungai.  Burung kasuari tertawa terbahak-bahak melihat kancil tak bisa berenang.  Kancil berteriak-teriak minta tolong, sampai akhirnya gajah menolongnya.  Gajah menasehati burung kasuari agar tidak mengulangi kembali perbuatannya, namun nasehat gajah tak digubrisnya. Ia masih suka mengejar-ngejar binatang lain sampai mereka kewalahan.
Burung kasuari sangat suka memakan batu-batu kecil, tujuannya untuk membantu menghancurkan makanan di temboloknya.  Setiap hari, burung kasuari mencari batu-batu kecil itu.
Hari ini, burung kasuari mengincar rusa bertanduk panjang untuk dijadikan teman bermainnya.  Dengan mengendap-ngendap ia mendatangi rusa yang sedang asyik mengobrol. Dan…..
” DHUAR…..”  Seru burung kasuari mengagetkan rusa dan temannya.
Rusa langsung lari, badannya yang langsing dan kakinya yang kecil membuatnya lincah berlari menerobos lebatnya hutan.  Burung kasuari yang berbadan besar dan hanya berkaki dua, terlihat sulit menandingi kelincahan rusa.  Namun burung kasuari mempunyai tekad pantang menyerah, sehingga ia tetap mengejar rusa  walaupun jauh ketinggalan.
Rusa berlari menuju puncak gunung, burung kasuari mengejarnya dengan nafas yang mulai tersengal-sengal kecapaian. Akhirnya sampai juga ia ke puncak gunung.  Namun…..burung kasuari kehilagan jejak. Kelelahan berlari, burung kasuaripun beristirahat. Paruhnya terbuka, nafasnya ngos-ngosan. Ia butuh air. Di liriknya ke kanan dan ke kiri, tapi tak dilihatnya ada sungai mengalir.
Setelah rasa lelahnya hilang, burung kasuaripun berdiri mencari air.  Akhirnya ia menemukan sebuah gua, dimana dari dalam gua tersebut terdengar suara gemericik air.  Perlahan dimasukinya gua itu.  Aneh sekali, gua yang biasanya gelap ternyata memancarkan cahaya yang sangat terang dari dalamnya.
Semakin masuk ke dalam gua, penglihatan burung kasuari semakin terang.  Ia sangat takjub melihat banyak sekali batu-batu yang mengeluarkan sinar berwarna-warni.  Keindahan sinar itu memantul di mata air yang mengalir pelan menjauh. Ternyata bebatuan itu adalah batu berlian.
Keindahan itu membuat burung kasuari terpukau, ia lupa dengan rasa hausnya.  Yang ada adalah nafsunya untuk memakan semua batu berlian itu, maka iapun memakan dengan lahap batu berlian yang ada sampai perutnya membuncit karena kekenyangan.
Burung kasuari lupa, bahwa ia memerlukan bebatuan untuk melancarkan proses melumatkan makanan di temboloknya, bukan sebagai makanan utama.  Sedangkan dari pagi tadi, burung kasuari belum makan, bahkan setelah berlari ia belum minum.  Apa yang terjadi….??
” Aduhhh….Aduhhh……Perutku sakit sekali…..”  Rintih burung kasuari sambil berguling-guling di tanah.
” Tolonggg…..Tolong akuuu…….”  Rintihnya berulang-ulang, namun tak ada yang datang menolong.
Setelah sekian lama berguling-guling dan merintih kesakitan, akhirnya suara rintihannya terdengar oleh binatang lain yang kebetulan lewat di depan gua.
” Hei….siapa itu yang merintih meminta tolong….?? “  Monyet bertanya kepada temannya.
” Ayo kita masuk ke dalam gua, kita lihat siapa yang meminta tolong ”
” Ayo ”
Merekapun bersama-sama memasuki gua. Ketika mendapati burung kasuari yang meminta tolong, semua monyet memonyongkan bibirnya dan keluar dari gua tanpa mau menolong.  Hanya seekor monyet yang tersentuh hatinya melihat burung kasuari berteriak kesakitan.  Monyet yang baik hati itu berlari mengejar kawannya dan berusaha membujuk mereka untuk menolong.
” Hai teman….Janganlah kebencian kita membuat kita tak mau menolongnya ”
” Aku tidak mau menolong burung kasuari yang sombong itu ! ”
” Iya….!  Aku juga tidak mau ! Tingkahnya selama ini sangat menyusahkan kita ! ”
” Semua binatang tidak ada yag menyukai burung kasuari ! ”
” Biarkan ia merasakan susah….! Jangan dibantu teman ! Ayo kita tinggalkan dia ! ”
” Ayooo…..! ”
Semua monyet sepakat untuk tidak membantu. Namun monyet yang baik hati tak berhenti membujuk temannya.
” Mengapa kalian berubah menjadi seperti burung kasuari ? ”
Perkataan monyet baik hati membuat mereka menghentikan langkah dan serentak menoleh keheranan.
” Apa maksudmu ? ”
” Iyaaa…..apa maksudmu ? “  Seru yang lain.
” Kita tahu bahwa apa yang dilakukan oleh burung kasuari adalah perbuatan yang tidak baik. Namun, tidak mau menolong yang sedang tertimpa kesusahan adalah juga perbuatan yang tidak baik “  Monyet baik hati menasehati temannya.
” Apakah nanti setelah kita tolong, ia akan mengulang perbuatan buruknya ?? ”
” Semoga tidak, yang penting sekarang kita menolongnya, karena ia sedang butuh pertolongan ”
Kebimbangan menyelimuti mereka, namun jerit kesakitan burung kasuari membuat hati mereka luluh. Setelah saling berpandang, akhirnya mereka berjalan kembali memasuki gua. Tanpa banyak kata mereka bergotong royong menggotong burung kasuari turun dari puncak gunung untuk pulang kembali ke rumahnya.
Sejak saat itu, burung kasuari menyadari perbuatan buruknya. Dan iapun tidak pernah mengulang perbuatannya. Kini burung kasuari menjadi binatang yang menyenangkan untuk semua temannya.
Bunda imels / Mamah imels
Purwakarta, 20 Maret 2012, pk: 21.05
” JANGANLAH SUKA MENGGANGU TEMAN DAN MEMBUATNYA SUSAH HATI, KARENA SUATU SAAT KITA AKAN MEMBUTUHKAN PERTOLONGANYA ”
” JANGANLAH KEBURUKAN KITA BALAS DENGAN KEBURUKAN PULA ”
” MEMAAFKAN ADALAH SIKAP YANG TERPUJI, NAMUN MENYADARI KESALAHAN DAN TAK MENGULANGNYA

Cerita Anak

Ular Sanca Kembang Yang Baik Hati

gunung kartun
http://bestclipartblog.com
Suatu hari di Pegunungan Himalaya, seekor Ular Sanca Kembang betina sedang mencari sarang untuk bertelur.  Tubuhnya yang berat (100 kg) dan panjang (8 meter) berjalan lambat menyusuri tanah dingin berlapis salju tipis.
Pegunungan Himalaya adalah pegunungan yang penuh salju. Himalaya adalah bahasa sansekerta artinya Hima (salju) dan aalaya (tempat kediaman). Pegunungan Himalaya mempunyai panjang 2.400 km dan lebar yang bervariasi antara 250 km-300km. Pegunungan Himalaya memanjang sepanjang 5 negara (Pakistan, India, Cina, Bhutan dan Nepal).
Puncak Everest (8.850 m) adalah puncak tertinggi di Pegunungan Himalaya dan puncak tertinggi di dunia.
Hannah si ular sanca kembang betina, tinggal di sana.  Saat ini bulan Nofember, musim kawin selama dua bulan sudah berlalu, saatnya Hannah mencari sarang dan bertelur.  Hannah sudah dua bulan tidak makan dan minum (berpuasa) karena selama musim kawin biasanya para ular sanca kembang berpuasa  dan  Hannah akan lebih lama lagi berpuasa (100 hari) karena mengandung,  sampai telurnya menetas.
Setelah lama berjalan akhirnya Hannah menemukan  sebuah lubang yang cocok untuk bersarang. Lubang itu ada di dalam sebuah gua kecil yang dalam dan hangat.  Hannahpun mengeluarkan telurnya satu persatu sampai mencapai jumlah 100 butir.  Tubuhnya tidur melingkari telur-telurnya sambil sesekali memberikan hawa panas dengan cara mengencangkan otot badannya. Hannahpun tertidur untuk 100 hari ke depan.
Baru satu minggu Hannah terlelap, tiba-tiba terdengar kegaduhan di dalam gua. Seekor kera besar jantan dengan nafas tersengal-sengal terlihat bersembunyi di dekat sarangnya.
“Hai… ada apakah gerangan?”  Hannah bertanya dalam hati. Namun ia tak mau menjulurkan kepalanya untuk bertanya pada sang kera jantan.
Tak berapa lama kemudian,  terdengar suara tapak kaki manusia dan gonggongan anjing .
“Coba lihat gua ini, mungkin kera itu ada di dalamnya”  Suara seorang lelaki terdengar memerintah .
“Nguik…Nguikkk…..” Terdengar suara ketakutan sang kera jantan .
Suaranya menyanyat hati tanda keputus asaan, Hannahpun tak tega. Ia berniat menolong, maka iapun keluar dari lubangnya. Sang kera jantan terkejut, namun Hannah tersenyum dan berkata :
“Jangan takut, aku akan menolongmu”.
Ketika dua orang manusia masuk ke lubang itu, Hannahpun menyapa mereka:
“Siapakah gerangan yang mengganggu tidur panjangku?”
“Ohhh….maaf ternyata ada ular sanca sedang beristirahat”  Santun mereka menyapa, di adat mereka ular adalah salah satu binatang yang harus di hormati dan tidak boleh dibunuh.
“Maaf, kami sedang mencari seekor kera jantan untuk dijadikan santapan, kami sudah kehabisan makanan selama 4 hari”
“Tidak ada kera jantan masuk kemari, hanya aku dan telur-telurku yang mendiami gua ini”
” Ooohhh maaf, silahkan melanjuti istirahatmu wahai ular sanca, kami pamit untuk mencari kera itu”
“Silahkan”
Kedua orang itupun pergi berlalu dari gua, di iringi gonggongan anjing yang tak percaya bahwa sang kera jantan tidak ada di dalam gua.
Sang kera jantan nampak menarik napas lega. Ia bersyukur tidak dijadikan santapan oleh bangsa manusia.
“Terimakasih ular sanca kembang yang baik”
“Sama-sama kera”
” Maafkan aku wahai ular betina, kudengar engkau sedang bertelur?”
“Ya betul, baru seminggu ku erami”
“Maafkan kelancanganku wahai ular betina yang diberkati Dewa”
“Ada apakah kera jantan ? Mengapa wajahmu masih tetap susah?”
“Aku sudah berkelana mencari makan untuk keluargaku selama hampir satu minggu, namun tak ada yang dapat dimakan”
“Lalu….? ”
“Bulan ini hawa sangat dingin sehingga tak ada tanaman yang bisa bertahan hidup, artinya aku harus mengambil makanan di kampung manusia , sedangkan aku tak punya tenaga lagi untuk berjalan kesana”
“Apa yang dapat aku bantu kera?”
“Engkau dapat membantuku dengan memberiku beberapa butir telurmu agar tenagaku pulih kembali”
Sejenak Hannah berpikir, ia tak ingin kera jantan mati kelaparan. Apalagi sang kera jantan adalah tulang punggung keluarganya.
“Baiklah kera, aku berikan engkau 20 butir telurku agar tenagamu pulih kembali”
“Terimakasih ular sanca, engkau memang binatang yang diberkati Dewa”
Sang Kera jantan dengan lahap menyantap 20 butir telur, kini ia telah kenyang. Pancaran rasa puas terlihat di wajahnya.  Hannah senang sekali dapat membantunya. Namun keceriaan di wajah sang kera tiba-tiba menghilang. Hannah bingung dan bertanya :
“Mengapa engkau kembali bersedih kera?”
“Aku ingat keluargaku yang kelaparan,  dalam perjalanan ke kampung manusia aku akan melewati rumahku. Bolehkah aku  meminta telurmu untuk mengganjal perut mereka yang kelaparan?”
Hannah adalah ular sanca kembang yang terkenal baik hati, iapun tak tega mendengar keluarga kera sudah kelaparan hampir satu minggu, maka diberikannya telurnya sebanyak 30 butir. Namun ternyata jumlah itu sangatlah sedikit dibandingkan jumlah keluarga sang kera jantan.
“Wahai binatang yang diberkati Dewa, jumlah ini sedikit sekali dibandingkan dengan istri dan 6 anakku”
“Jadi berapa telur lagi yang engkau butuhkan agar keluargamu tak lapar?”
“Jika kau tak berkeberatan, aku butuh seluruh telurmu”
Hati Hannah sangat sedih mendengar permintaan sang kera jantan, namun ia kembali teringat akan keluarga sang kera. Kera adalah binatang yang hanya melahirkan satu atau dua ekor anak selama kurun waktu dua tahun, sedangkan ia bisa bertelur sampai 100 setiap tahunnya. Dengan pertimbangan itu Hannahpun memberikan seluruh telurnya pada sang kera jantan.
Sang kera jantan sangat senang, diucapkannya terimakasih berkali-kali sampai membungkuk-bungkukkan badannya tanda bersyukur.
“Sudah, cukuplah rasa terima kasihmu, cepatlah pulang dan hati-hati di jalan ” Ucap Hannah sambil menyuruh sang kera jantan pulang.  Sang kerapun pergi dengan suka cita.  Hannah senang bisa membantu sesama walaupun harus kehilangan 100 butir telurnya.
“Kalaupun telur-telur itu ku erami, toh nantinya setelah menetas mereka harus berjuang sendiri untuk hidup, aku tak memberi mereka makan dan melindunginya” Hannah membatin menghibur diri, iapun memutuskan untuk istirahat di kubangnya.  Ular betina akan meninggalkan anak-anaknya setelah mereka menetas, ular betina tidak mengurusi lagi anaknya.
http://www.snakelady.ca/
********
Tiga hari berlalu, Hannah terbangun dan merasa lapar. Hukum alam berlaku, jika ia tidak lagi mengerami maka ia tak lagi berpuasa. Hannah keluar gua untuk mencari makan. Seharian dicarinya tikus, namun binatang itu tak seekorpun dilihatnya.
“Hmmm…tampaknya betul apa yang dikatakan sang kera jantan, bulan ini susah mencari makan” Hannah membatin sambil berjalan menuju kampung manusia. Biasanya disana tikus masih banyak. Dan Hannah betul, sesampainya di kampung manusia, ia dapat berburu tikus besar dengan mudah.
Ketika perutnya sudah kenyang , diputuskanya untuk mencari sarang baru di sekitar kampung manusia. Ketika melewati jalur sungai, di dengarnya teriakan sejumlah binatang dari sebuah rumah. Hannah penasaran sekali, maka dicarinya asal suara tersebut.
Sesampainya di sana, Hannah melihat begitu banyak binatang dari berbagai jenis sedang di kerangkeng. Mereka semua menangis meminta tolong sambil merintih kelaparan.  Yang membuat Hannah lebih terkrjut adalah ketika di dengarnya suara yang tak asing lagi di telinganya, suara sang kera jantan!
“Hai kera! Mengapa engkau sampai dikerangkeng begini?”
“Ulaaaaarrrr……!” Pekik sang kera jantan senang sambil mengusap air matanya.
“Bebaskan kami wahai binatang yang diberkati Dewa” lanjutnya.
“Sebagian dari kami akan dijadikan santapan dan sebagian lagi dijual” timpalnya lagi.
“Kasihani kami….Kasihani kamiiii……” rintih para binatang.
Hannah adalah binatang perlambang kebijaksanaan, ia memang bijaksana. Karena itu secepatnya ia membuka kerangkeng mereka sambil berpesan untuk tidak ribut dan keluar dengan hati-hati.  Semua binatang menuruti, mereka keluar dengan diam dan hati-hati, takut ketahuan sang pedagang.
Ketika hampir semua binatang keluar, mendadak anjing sang pedagang menggonggong keras, sehingga membuat semua binatang ketakutan dan ribut sambil berlarian keluar. Sang pedagangpun datang dengan cepat sambil membawa bedil.  Melihat sang pedagang bersiap-siap menembakkan pelurunya dengan sigap Hannah membelit tangan pedagang itu dan meremukkan tangannya. Teriakan kesakitan terdengar.
http://pixabay.com
Keributan yang terjadi membuat para pedagang binatang yang lain berlarian sambil membawa senapan, diantara mereka terdapat beberapa orang asing yang tidak mengenal adat  istiadat penduduk di Pegunungan Himalaya.  Sehingga ketika mereka melihat seekor ular membelit teman mereka, merekapun menembak Hannah.
“Dor…Dor….Dor…..” Suara senapan memekakan telinga.
Tiga peluru menembus tubuh Hannah, membuatnya melepaskan belitan dan berlari ke arah Pegunungan Himalaya.  Namun tubuhnya yang berbobot 100 kg dengan panjang 8 meter membuatnya tidak dapat lincah bergerak, iapun menjadi santapan peluru-peluru milik orang asing. Melihat hal tersebut, beberapa pedagang pribuni,  menarik senjata orang-orang asing itu sambil mengatakan bahwa ular adalah binatang yang dihormati di daerah mereka sehingga tidak boleh disakiti apalagi di bunuh.
Suara letusan peluru berhenti, teriakan para binatang yang lari tak terdengar lagi, tanda mereka sudah bebas ke alam liar.  Beberapa pedagang pribumi Pegunungan Himalaya nampak mendekati Hannah dan berkata sambil memeriksa tubuhnya.
“Maafkan kawan kami orang asing yang tak mengerti adat kita wahai ular sanca kembang, binatang yang diberkati Dewa”
Hannah tak dapat berkata apa-apa, tubuhnya lemah, darah banyak keluar.  Para pedagang pribumi berusaha menghentikan pendarahannya, namun usaha mereka sia-sia. Peluru terlalu banyak menembus tubuh Hannah.  Para pedagang pribumi terlihat menundukkan kepalanya, tanda duka mendalam.
Beberapa saat kemudian mereka melakukan acara penghormatan untuk Hannah dengan cara membakar tubuh Hannah dan melarungkan abunya ke sungai. Para pedagang pribumi berharap Dewa tidak menimpakan kesialan kepada mereka karena telah membunuh binatang yang dilindungi para Dewa.
Sayup-sayup dari jauh terdengar tangisan pilu para binatang, mereka tau Hannah sang ular sanca kembang berkorban untuk mereka.

Cerita Anak



Anak Penggembala dan Serigala



Seorang anak gembala selalu menggembalakan domba milik tuannya dekat suatu hutan yang gelap dan tidak jauh dari kampungnya. Karena mulai merasa bosan tinggal di daerah peternakan, dia selalu menghibur dirinya sendiri dengan cara bermain-main dengan anjingnya dan memainkan serulingnya.
Suatu hari ketika dia menggembalakan dombanya di dekat hutan, dia mulai berpikir apa yang harus dilakukannya apabila dia melihat serigala, dia merasa terhibur dengan memikirkan berbagai macam rencana.
Anak Penggembala dan SerigalaTuannya pernah berkata bahwa apabila dia melihat serigala menyerang kawanan dombanya, dia harus berteriak memanggil bantuan, dan orang-orang sekampung akan datang membantunya. Anak gembala itu berpikir bahwa akan terasa lucu apabila dia pura-pura melihat serigala dan berteriak memanggil orang sekampungnya datang untuk membantunya. Dan anak gembala itu sekarang walaupun tidak melihat seekor serigala pun, dia berpura-pura lari ke arah kampungnya dan berteriak sekeras-kerasnya, "Serigala, serigala!"
Seperti yang dia duga, orang-orang kampung yang mendengarnya berteriak, cepat-cepat meninggalkan pekerjaan mereka dan berlari ke arah anak gembala tersebut untuk membantunya. Tetapi yang mereka temukan adalah anak gembala yang tertawa terbahak-bahak karena berhasil menipu orang-orang sekampung.
Beberapa hari kemudian, anak gembala itu kembali berteriak, "Serigala! serigala!", kembali orang-orang kampung yang berlari datang untuk menolongnya, hanya menemukan anak gembala yang tertawa terbahak-bahak kembali.
Pada suatu sore ketika matahari mulai terbenam, seekor serigala benar-benar datang dan menyambar domba yang digembalakan oleh anak gembala tersebut.
Dalam ketakutannya, anak gembala itu berlari ke arah kampung dan berteriak, "Serigala! serigala!" Tetapi walaupun orang-orang sekampung mendengarnya berteriak, mereka tidak datang untuk membantunya. "Dia tidak akan bisa menipu kita lagi," kata mereka.
Serigala itu akhirnya berhasil menerkam dan memakan banyak domba yang digembalakan oleh sang anak gembala, lalu berlari masuk ke dalam hutan kembali.
Pembohong tidak akan pernah di percayai lagi, walaupun saat itu mereka berkata benar.

Cerita Anak

Kura-kura dan Sepasang Itik



Seekor kura-kura, yang kamu tahu selalu membawa rumahnya di belakang punggungnya, dikatakan tidak pernah dapat meninggalkan rumahnya, biar bagaimana keras kura-kura itu berusaha. Ada yang mengatakan bahwa dewa Jupiter telah menghukum kura-kura karena kura-kura tersebut sangat malas dan lebih senang tinggal di rumah dan tidak pergi ke pesta pernikahan dewa Jupiter, walaupun dewa Jupiter telah mengundangnya secara khusus.
Setelah bertahun-tahun, si kura-kura mulai berharap agar suatu saat dia bisa menghadiri pesta pernikahan. Ketika dia melihat burung-burung yang beterbangan dengan gembira di atas langit dan bagaimana kelinci dan tupai dan segala macam binatang dengan gesit berlari, dia merasa sangat ingin menjadi gesit seperti binatang lain. Si kura-kura merasa sangat sedih dan tidak puas. Dia ingin melihat dunia juga, tetapi dia memiliki rumah pada punggungnya dan kakinya terlalu kecil sehingga harus terseret-seret ketika berjalan.
Suatu hari dia bertemu dengan sepasang itik dan menceritakan semua masalahnya.
Kura-kura dan Itik"Kami dapat menolongmu untuk melihat dunia," kata itik tersebut. "Berpeganglah pada kayu ini dengan gigimu dan kami akan membawamu jauh ke atas langit dimana kamu bisa melihat seluruh daratan di bawahmu. Tetapi kamu harus diam dan tidak berbicara atau kamu akan sangat menyesal."
Kura-kura tersebut sangat senang hatinya. Dia cepat-cepat memegang kayu tersebut erat-erat dengan giginya, sepasang itik tadi masing-masing menahan kedua ujung kayu itu dengan mulutnya, dan terbang naik ke atas awan.
Saat itu seekor burung gagak terbang melintasinya. Dia sangat kagum dengan apa yang dilihatnya dan berkata:
"Kamu pastilah Raja dari kura-kura!"
"Pasti saja......" kura-kura mulai berkata.
Tetapi begitu dia membuka mulutnya untuk mengucapkan kata-kata tersebut, dia kehilangan pegangan pada kayu tersebut dan jatuh turun ke bawah, dimana dia akhirnya terbanting ke atas batu-batuan yang ada di tanah.
Rasa ingin tahu yang bodoh dan kesombongan sering menyebabkan kesialan.

sangkuriang

gunung.JPG (7283 bytes) Jawa Barat
Sangkuriang

spkr.gif (282 bytes)Pada jaman dahulu, tersebutlah kisah seorang puteri raja di Jawa Barat bernama Dayang Sumbi.Ia mempunyai seorang  anak laki-laki yang diberi nama Sangkuriang. Anak tersebut sangat gemar berburu.
spkr.gif (282 bytes)Ia berburu dengan ditemani oleh Tumang, anjing kesayangan istana. Sangkuriang tidak tahu, bahwa anjing itu adalah titisan dewa dan juga bapaknya.
Pada suatu hari Tumang tidak mau mengikuti perintahnya untuk mengejar hewan buruan. Maka anjing tersebut diusirnya ke dalam hutan.
spkr.gif (282 bytes)Ketika kembali ke istana, Sangkuriang menceritakan kejadian itu pada ibunya. Bukan main marahnya Dayang Sumbi begitu mendengar cerita itu. Tanpa sengaja ia memukul kepala Sangkuriang dengan sendok nasi yang dipegangnya. Sangkuriang terluka. Ia sangat kecewa dan pergi mengembara.
spkr.gif (282 bytes)Setelah kejadian itu, Dayang Sumbi sangat menyesali dirinya. Ia selalu berdoa dan sangat tekun bertapa. Pada suatu ketika, para dewa memberinya sebuah hadiah. Ia akan selamanya muda dan  memiliki kecantikan abadi.
spkr.gif (282 bytes)Setelah bertahun-tahun mengembara, Sangkuriang akhirnya berniat untuk kembali ke tanah airnya. Sesampainya disana, kerajaan itu sudah berubah total. Disana dijumpainya seorang gadis jelita, yang tak lain adalah Dayang Sumbi. Terpesona oleh kecantikan wanita tersebut maka, Sangkuriang melamarnya.  Oleh karena pemuda itu sangat tampan, Dayang Sumbi pun sangat terpesona padanya.
Pada suatu hari Sangkuriang minta pamit untuk berburu. Ia minta tolong Dayang Sumbi untuk merapikan ikat kepalanya. Alangkah terkejutnya Dayang Sumbi demi melihat bekas luka di kepala calon suaminya. Luka itu persis seperti luka anaknya yang telah pergi merantau. Setelah lama diperhatikannya, ternyata wajah pemuda itu sangat mirip dengan wajah anaknya. Ia menjadi sangat ketakutan.
Maka kemudian ia mencari daya upaya untuk menggagalkan proses peminangan itu. Ia mengajukan dua buah syarat. Pertama, ia meminta pemuda itu untuk membendung sungai Citarum. Dan kedua, ia minta Sangkuriang untuk membuat sebuah sampan besar untuk menyeberang sungai itu. Kedua syarat itu harus sudah dipenuhi sebelum fajar menyingsing.
Malam itu Sangkuriang melakukan tapa. Dengan kesaktiannya ia mengerahkan mahluk-mahluk gaib untuk membantu menyelesaikan pekerjaan itu. Dayang Sumbi pun diam-diam mengintip pekerjaan tersebut. Begitu pekerjaan itu hampir selesai, Dayang Sumbi memerintahkan pasukannya untuk menggelar kain sutra merah di sebelah timur kota.
Ketika menyaksikan warna memerah di timur kota, Sangkuriang mengira hari sudah menjelang pagi. Ia pun menghentikan pekerjaannya. Ia sangat marah oleh karena itu berarti ia tidak dapat memenuhi syarat yang diminta Dayang Sumbi.
Dengan kekuatannya, ia menjebol bendungan yang dibuatnya. Terjadilah banjir besar melanda seluruh kota. Ia pun kemudian menendang sampan besar yang dibuatnya. Sampan itu melayang dan jatuh menjadi sebuah gunung yang bernama "Tangkuban Perahu."

Rabu, 15 Mei 2013

pesta bau nyale



mak lampir


Legenda Mak Lampir


Mak Lampir sebenarnya merupakan legenda dari Gunung Merapi yang beraada di Sumatra yang di adaptasi oleh orang jawa karena di jawa pun terdapat gunung merapi.
Mak lampir merupakan seorang sosok penguasa alam gaib yang mempunyai kesaktian tiada tanding.
Namun tahukah anda jika mak lampir sebenarnya adalah seorang putri yang berasal dari kerajaan kuno di daerah Champa yang dibuang karena mencintai kepala pengawalnya Datuk Panglima Kumbang.
Sang putri sedih dan menyepi ke puncak gunung merapi, dan bergurulah ia dengan seorang petapa hingga dikarunia kesaktian yang maha dahsyat dan berusha kembali untuk balas dendam.
Sementara itu, Datuk panglima kumbang yang juga sebenarnya mencintai sang putri, mecoba mencari, namun ia tidak pernah menemukanya hingga akhirnya mereka bertemu dalam sebuah pertempuran yang akhirnya menewaskan datuk itu sendiri, hingga sang putri pun menyadari jika datuk juga mencintainya, sesal yang dalam, kesedihan yang hebat membuatnya kacau.
Dengan kesaktian yang dimilikinya, ia mengikat jiwa datuk ke bumi dengan konsekuensi tubuh dan wajah cantiknya berubah menjadi buruk dan menyeramkan. Dengan harapan hingga saatnya nanti sang datuk yang mengira berhadapan dengan mahkluk jahat dan buruk rupa dapat menyadari jika ialah sang putri dan menerima kembali cintanya dengan tulus, namun hingga saat itu terjadi mereka akan terus melanjutkan pertempuran salah paham ini.